Teknologi Digital Mengubah Tren Kerja, Literasi dan Keamanan Jadi Kunci Adaptasi
Boyolali — Perkembangan teknologi digital yang kian pesat mendorong pergeseran tren pekerjaan dan bidang usaha. Di tengah perubahan tersebut, masyarakat dinilai perlu mengasah literasi digital agar mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Pemerintah Indonesia saat ini menggencarkan sosialisasi program literasi digital melalui berbagai kegiatan webinar. Literasi digital yang diperkenalkan kepada talenta digital Indonesia mencakup empat pilar, yakni digital culture, digital skill, digital safety, dan digital ethics.
Webinar di Boyolali Bahas Tren Kerja dan Usaha Digital
Salah satu kegiatan sosialisasi tersebut digelar untuk masyarakat Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Senin (26/7/2021) dengan tema “Tren Pekerjaan dan Usaha di Dunia Digital”. Diskusi yang dipandu reporter TV Niken Pertiwi itu diikuti sekitar 600 peserta.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yaitu Farid Fitriyadi (dosen Universitas Sahid Surakarta), Ahmad Khoirul Anwar (dosen Universitas Sahid Surakarta), Retno Kusumastuti Hardjono (dosen Universitas Indonesia), serta Arfian (konsultan SDM). Diskusi virtual itu juga menghadirkan key opinion leader Debi Glen (tv presenter).
Aktivitas Harian Bergeser ke Dunia Digital
Dalam paparannya, Farid Fitriyadi menyampaikan bahwa dunia digital telah menggeser budaya masyarakat, terutama dalam menjalankan aktivitas harian. Menurutnya, teknologi digital menawarkan kemudahan dan mengubah kehidupan seolah cukup dalam satu genggaman.
Farid menilai pesatnya perkembangan teknologi, ditambah kondisi pandemi Covid-19, ikut memicu peningkatan pengguna digital. Internet pun disebut semakin menjadi kebutuhan dasar. Dari sisi komunikasi, ruang digital menjadi “tempat perjumpaan” baru yang memungkinkan kolaborasi, termasuk penyelenggaraan webinar yang mempertemukan banyak orang dalam waktu bersamaan meski berada di lokasi berbeda.
Ia juga menyinggung semakin eksisnya transportasi online dan meningkatnya budaya transaksi nontunai (cashless). Namun, Farid mengingatkan bahwa kemudahan tersebut juga dapat membawa dampak negatif, salah satunya kecenderungan masyarakat menjadi lebih individualis.
Industri 4.0 dan Pergeseran Kebutuhan Tenaga Kerja
Farid menambahkan, industri 4.0 mendorong masyarakat untuk beradaptasi agar tidak tertinggal. Digitalisasi memengaruhi banyak aspek, mulai dari kebiasaan belanja online, transportasi, pendidikan daring, hingga cara melamar kerja yang kini dapat dilakukan secara digital.
Perubahan budaya ke arah digital, menurut Farid, turut menggeser tren pekerjaan dan bidang usaha. Sejumlah jenis pekerjaan yang disebut banyak dibutuhkan seiring digitalisasi antara lain:
- Social media specialist
- Content writer
- Video creator
- Desain grafis
- Data analyst
- Web designer
Risiko Keamanan Data di Ruang Digital
Di sisi lain, kemudahan digitalisasi juga memiliki titik lemah pada aspek keamanan. Ahmad Khoirul Anwar mengingatkan bahwa pergeseran aktivitas ke ranah digital dan penggunaan internet membuat data pribadi pengguna ikut terbawa ke ruang online.
Menurutnya, tanpa kecakapan keamanan dalam menggunakan platform digital, data pribadi dapat menjadi celah yang berdampak negatif. Ia menekankan bahwa penggunaan koneksi internet—baik jaringan pribadi maupun publik—membuka potensi ancaman keamanan dan celah kejahatan digital (cybercrime).
Khoirul Anwar menyebut langkah keamanan dasar, seperti penggunaan kata sandi pada perangkat dan akun digital, berfungsi melindungi informasi pribadi dari serangan siber yang dapat mengganggu aktivitas digital.




