Pertumbuhan Ekonomi AS 4% di Tengah Penurunan Lapangan Kerja
Sumber Foto: IDNFinancials
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi AS 4% di Tengah Penurunan Lapangan Kerja

JAKARTA – Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh hampir 4% pada 2025, namun penciptaan lapangan kerja semakin menipis.

Para ekonom menilai kecerdasan buatan (AI) mungkin ikut berperan, meski hal itu sulit dibuktikan secara langsung.

Dilansir dari indiatimes.com (30/9), pasar sempat terguncang akibat rencana tarif Presiden Donald Trump pada April, tetapi kemudian berbalik menguat. Indeks S&P 500 melonjak 33% dari titik terendahnya. Produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga diperkirakan tumbuh 3,9% secara tahunan.

Menghadapi tantangan itu, Federal Reserve kembali melonggarkan kebijakan karena khawatir pasar tenaga kerja semakin melemah.

Data menunjukkan payroll rata-rata hanya bertambah 29.000 per bulan dalam tiga bulan hingga Agustus, jauh di bawah 82.000 pada periode sama tahun lalu.

“Percepatan belanja modal di tengah pertumbuhan lapangan kerja yang terhambat sulit dimasukkan ke dalam prospek,” tulis JPMorgan Chase $ Co dalam laporan berjudul The Odd Decouple.

Artinya, kombinasi antara investasi perusahaan yang tinggi dengan pertumbuhan lapangan kerja yang lemah sulit dijadikan acuan atau prediksi ke depan, karena pola ini belum pernah terlihat dalam ekspansi ekonomi AS selama 60 tahun terakhir.

Ekonom TS Lombard, Dario Perkins, menyoroti bahwa perubahan enam bulan payroll inti AS hampir nol.

“The Fed melakukan apa yang selalu dilakukannya ketika lapangan kerja berhenti tumbuh—panik tentang ‘kecepatan kemacetan’,” ujarnya.

Investor percaya Fed akan segera bertindak, sementara faktor imigrasi dan produktivitas disebut sebagai penyebab melemahnya data pekerjaan.

Menurut JPMorgan, ada dua kemungkinan narasi:

Optimis: teknologi baru seperti AI menekan kebutuhan tenaga kerja, sehingga meski pekerjaan tidak tumbuh, produktivitas naik.

Pesimis: lemahnya perekrutan mencerminkan kehati-hatian bisnis, dan lonjakan belanja AI (capex) bisa segera mereda.

Jika skenario pesimistis yang terjadi, JPMorgan memperkirakan daya beli rumah tangga akan kembali tertekan, serta ditambah risiko inflasi dari tarif impor dan penguatan dolar.

Namun musim laporan keuangan kuartal ketiga diperkirakan akan memberi jawaban lebih jelas, terutama terkait belanja AI oleh raksasa teknologi seperti Microsoft, Alphabet, dan Amazon. (DH/KR)