Peluang Emiten Teknologi Indonesia di Sektor Kecerdasan Buatan
Sumber Foto: SWA.co.id
Teknologi

Peluang Emiten Teknologi Indonesia di Sektor Kecerdasan Buatan

Praktisi pasar modal sekaligus Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, mencermati kecerdasan buatan (AI) kian diminati karena permintaan terus meningkat, salah satunya ditopang oleh kebutuhan pusat data (data centre) dan penerapannya di sisi konsumer serta korporasi.

“Perkiraan kami, AI belum akan bubble. Pertama, belanja modal AI sekitar 1% dari GDP. Kedua, perusahaan yang berbisnis pakai AI masih menunjukkan pertumbuhan laba yang bagus. Ketiga, permintaan masih bagus, contoh investasi pusat data di Amerika Serikat belum dibuka, permintaannya sudah ada,” jelas Hans kepada awak media saat acara edukasi wartawan pasar modal yang dihelat Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (23/1/2026).

Berpijak dari hal ini, Hans meyakini tren AI berlanjut pada jangka menengah, yaitu sekitar 2-3 tahun mendatang. Namun, tren AI akan memicu pengangguran hingga 20%, disertai dengan peningkatan infrastruktur listrik dan energi baru terbarukan (EBT) untuk menyokong pasokan listrik di pusat data dan pengolahan AI.

Dari sisi saham-saham AI di Amerika Serikat, sejumlah perusahaan teknologi raksasa telah mengadopsi AI, bahkan menjadi penyedia infrastruktur perangkat kerasnya. Melansir dari laman Morningstar pada 9 Januari 2026, terdapat 12 emiten teknologi yang menggarap bisnis AI, sebagiannya termasuk dalam kelompok Magnificent 7 (Mag7).

Rincian saham-saham Mag7 yang menggarap AI yaitu Amazon.com, Inc (AMZN), NVIDIA Corporation (NVDA), Microsoft Corporation (MSFT) Meta Platforms Inc Class A (META) yang tercatat di indeks NASDAQ.

Selanjutnya, saham Broadcom (AVGO), Advanced Micro Devices (AMD), Adobe (ADBE), dan Marvell Technology (MRVL) yang tercatat di NASDAQ. Kemudian, Tencent Holdings (TCEHY) tercatat di Bursa Efek Hong Kong (HKEX). Terakhir, Alibaba (BABA) dan Oracle (ORCL) yang tercatat di Bursa Efek New York (NYSE).

Mengutip data perdagangan dari laman TradingView, misalnya saham NVDA, kemarin ditutup menguat tipis 0,83% ke US$184,84 pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Sedangkan AMZN juga ditutup menguat 1,31% ke US$234,34, MSFT menguat 1,58% ke US$451,14. Saham META juga ditutup meroket 5,66% ke US$647,63.

Hans menyampaikan perusahaan-perusahaan teknologi yang hendak menerapkan AI itu cenderung selektif untuk menggandeng mitra korporasinya. Perusahaan tersebut akan memilih bisnis yang telah mencetak profit, sehingga peluang untuk akuisisi atau investasi akan lebih besar.

Sedangkan emiten teknologi di Indonesia, Hans mengamati emiten-emiten teknologi ini masih berkutat di bisnis pusat data, belum ke ranah advanced seperti produksi mesin AI.

“Di dalam negeri akan adopsi teknologi, jadi AI itu akan diadopsi, dipakai dalam berbisnis,” jelas Hans.

Selain itu, perusahaan-perusahaan teknologi cenderung memilih lokasi investasi dengan negara berbunga rendah. Penyebabnya, ini akan menekan belanja modal dan berpeluang mencetak laba perusahaan.

Di Indonesia, emiten-emiten teknologi yang fokus di pusat data adalah PT Remala Abadi Tbk (DATA), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Indointernet Tbk (EDGE), dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT).

Emiten yang berkaitan dengan pusat data seperti sektor telekomunikasi juga turut menggarap infrastruktur AI di pusat data. Misalnya PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan Indosat Ooredo Hutchison atau PT I(ISAT).

Pada tahun 2024, saham energi, Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melakukan akuisisi terhadap perusahaan teknologi PT Teknovatus Solusi Sejahtera dengan nilai transaksi Rp26,5 miliar. Akuisisi tersebut dilakukan oleh anak usaha DSSA, yaitu PT SMPlus Sentra Data dan PT SMPlus Digital Investama. (*)