Menteri LH: Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Iklim, Pencemaran, dan Sampah
Jateng – Isu krisis iklim, krisis pencemaran, dan krisis sampah bukan lagi sekadar wacana global. Pemerintah menegaskan, Indonesia kini berada langsung di tengah ancaman tersebut.
Hal itu disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq saat menghadiri Aksi Bersih Sungai dan penanaman pohon di aliran Sungai Cikeas, Sentul, Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional.
Menurut Hanif, Indonesia saat ini berada dalam pusaran triple planetary crisis yang menjadi tantangan nyata dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Kita benar-benar berada di dalam pusaran triple planetary crisis. Ini bukan lagi isu dunia, ini sudah menjadi tantangan nyata yang kita hadapi dari hari ke hari,” kata Hanif.
Suhu Global Cetak Rekor, Indonesia Kian Rentan
Baca Juga
Mengacu pada data United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan kenaikan suhu global mencapai 1,4 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri.
Kenaikan suhu tersebut, kata Hanif, membawa dampak serius bagi negara tropis seperti Indonesia. Fenomena cuaca ekstrem hingga bencana hidrometeorologi kini bukan lagi kejadian luar biasa.
“Kenaikan suhu 1,4 derajat ini sangat berdampak bagi negara tropis seperti Indonesia. Curah hujan ekstrem, hidrometeorologi, banjir, dan kenaikan muka air laut sudah menjadi pola baru, bukan lagi anomali,” ujarnya yang dikutip Antara.
Kondisi ini memperkuat urgensi penanganan darurat iklim Indonesia, termasuk upaya pengurangan emisi dan pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
Sungai Indonesia Darurat Sampah
Selain krisis iklim, persoalan pencemaran sungai menjadi sorotan serius. Hanif menyebut hampir tidak ada sungai di Indonesia yang benar-benar terbebas dari sampah plastik maupun limbah lainnya.
“Sepanjang saya bertugas, hampir tidak ada satu pun sungai kita yang benar-benar bersih dari sampah, baik plastik maupun limbah lainnya. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” katanya.
Ia menegaskan, sebagian besar sampah laut bermula dari daratan dan sungai. Karena itu, solusi harus dimulai dari hulu melalui penguatan sistem pengelolaan sampah nasional dan perubahan perilaku masyarakat.




