Menjaga Etika dalam Era Industri 5.0: Perlunya Lindungi Hak Cipta
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hukum

Menjaga Etika dalam Era Industri 5.0: Perlunya Lindungi Hak Cipta

Mohon Tunggu... Mahasiswa

Saya adalah mahasiswa yang kebetulan suka menulis hal-hal yang saya sukai. Lalu sebagai perpanjangan dalam hobi saya, mendaftar di kompasiana untuk mendapat pengalaman yang lebih

Selanjutnya

Techlife

Ketika Hukum Tertinggal dari Algoritma: Menjadikan Etika Profesi sebagai Panglima di Era Industri 5.0

14 Januari 2026 13:32 Diperbarui: 14 Januari 2026 13:32 35 0 0

+

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lihat foto

Validasi Rantai Pasok Digital: Sama seperti industri manufaktur yang memeriksa asal usul bahan bakunya, profesional IT harus memvalidasi aset digital yang mereka gunakan. Apakah library yang kita import memiliki lisensi yang jelas? Apakah dataset yang kita olah didapatkan dari sumber yang sah? Mengabaikan asal usul aset digital adalah bentuk kelalaian profesional yang tidak bisa ditoleransi.

Edukasi Klien dan Pengguna: Seringkali, klien atau pengguna awam tidak paham tentang lisensi digital. Merupakan tanggung jawab etis seorang profesional Informatika untuk mengedukasi mereka. Jangan biarkan klien menggunakan aset bajakan hanya demi memangkas biaya proyek. Integritas profesi dipertaruhkan ketika kita membiarkan pelanggaran terjadi di depan mata kita.

Menjaga Kemanusiaan dalam Teknologi

Inti dari Industri 5.0 adalah human-centric atau berpusat pada manusia. Melindungi hak cipta sejatinya adalah melindungi manusia itu sendiri---melindungi waktu, tenaga, dan kreativitas yang telah dicurahkan seseorang untuk melahirkan sebuah karya.

Jika pelanggaran hak cipta terus dinormalisasi atas nama kemajuan teknologi, kita akan menuju pada sebuah paradoks: kita memiliki mesin-mesin super cerdas, namun miskin karya orisinal baru karena manusianya enggan berkreasi. Kreator akan berhenti mencipta jika mereka merasa tidak ada proteksi atas jerih payah mereka.

Sebagai mahasiswa dan calon profesional, kita memegang kunci masa depan ini. Mari kita tulis kode program yang canggih, namun jangan lupa menanamkan kode etik di dalam hati dan pikiran kita. Karena pada akhirnya, teknologi hanyalah alat, dan kitalah yang menentukan apakah alat itu digunakan untuk memuliakan atau merugikan sesama.

Oleh: Ahmad Jauharul Ilmi Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :

1

2

LIHAT SEMUA

Mohon tunggu...

Lihat Techlife Selengkapnya

Beri Komentar

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

KIRIM

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

TAG

artificial-intelligence

etika profesi

kecerdasan buatan

industri 50

hak cipta

new world

artificial intelligence