Industri Herbal Indonesia Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Industri Herbal Indonesia Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

RRI.CO.ID, Semarang - Industri herbal diproyeksikan memiliki prospek cerah ditengah isu perang dunia dan ketidakpastian global. Pemerintah menilai sektor ini lebih tangguh karena berbasis pada kekayaan hayati dalam negeri.

Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Taufik Bawazier, saat kunjungan kerja spesifik bersama Komisi VII DPR RI ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Ungaran, Jumat 23 Januari 2026. "Iya sangat besar (potensinya-red), artinya kemampuan produk itu untuk menyembuhkan atau mencegah itu juga menjadi penting," ucapnya.

Taufik Bawazier menyebut pengembangan bio-active ingredient menjadi fokus utama untuk dikembangkan. Bahan hayati dinilai potensial untuk memperkuat ekosistem kesehatan nasional berbasis sains dan inovasi.

“Industri obat tradisional juga didorong naik kelas menjadi produk berstandar. Penguatan riset, edukasi, dan peningkatan kapasitas pelaku usaha menjadi kunci agar produk diterima pasar nasional hingga ekspor,” ujarnya

Ia juga menyebut di tengah gejolak global dan pelemahan nilai tukar, industri herbal juga dinilai relatif lebih tahan guncangan. “Berbeda dengan sektor kimia yang bergantung impor, sektor ini tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi global,” ungkapnya

Menurutnya, pasar ekspor produk herbal Indonesia juga sangat terbuka, dari Afrika hingga negara berkembang lainnya saat ini meminati produk herbal. Untuk itu, pemerintah akan memprioritaskan industri dengan bahan baku mayoritas lokal agar lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing.

Ketua Tim Kunker Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menyebut, dari hasil belanja masalahnya di PT Sidomuncul membuktikan, sektor industri jamu dalam negeri kuat kendati ada penurunan. Bahkan, industri herbal ini tetap mampu mempekerjakan ribuan pekerja tanpa pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"Sido Muncul, sebenarnya sekarang ini dia ada penurunan, mereka itu bisa memproduksi 200 juta loh, enggak main-main, waktu saat Covid justru penjualan mereka meningkat. Karena konsumsinya banyak di luar negeri, banyak orang Indonesianya, sudah dikonsumsi oleh lokalnya kayak Manila, Malaysia, Nigeria, mostly itu untuk konsumsi orang Indonesia di luar negeri," tuturnya.

Sementara itu, Direktur PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat menyebut, perang dunia membawa sedikit dampak. Kendati begitu, produknya tetap mampu mencapai 80 persen hingga menembus ekspor di 30 negara.

"Yang penting, pemerintah, saran saya membangun pasar, membangun market. Pemerintah nanti juga kalau mau bekerja sama, memberikan lebih powerful, nanti otomatis akan narik di hulu-hulunya, petani, pengrajin jamu, hingga perusahaan perusahaan perusahaan banyak," ujarnya.