Empat Isu Kunci Ekonomi Politik Internasional Menurut Thomas Oatley
Sumber Foto: Kompasiana.com
Internasional

Empat Isu Kunci Ekonomi Politik Internasional Menurut Thomas Oatley

4 Isu Penting Ekonomi Politik Internasional Menurut Thomas Oatley:

Menelusuri Realitas Global Lewat Lensa Mahasiswa HI

Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, interaksi antara politik dan ekonomi lintas negara menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Negara tidak lagi bisa bertindak secara mandiri tanpa memperhitungkan dampaknya dalam skala global. Maka dari itu, Ekonomi Politik Internasional (EPI) hadir sebagai pendekatan interdisipliner untuk memahami dinamika global dengan mempertimbangkan kepentingan politik, kebijakan ekonomi, serta aktor-aktor internasional yang berpengaruh. Salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam studi ini adalah Thomas Oatley.

Oatley membagi isu utama dalam EPI ke dalam empat kategori besar: perdagangan internasional, sistem moneter internasional, investasi asing, dan pembangunan ekonomi. Keempat isu ini saling berkaitan dan memengaruhi arah kebijakan banyak negara, termasuk Indonesia. Artikel ini akan membahas setiap isu tersebut dengan pendekatan kontekstual dan contoh nyata, agar lebih mudah dipahami khususnya oleh mahasiswa Hubungan Internasional.

Perdagangan bebas sering digadang-gadang sebagai solusi terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi global. Dalam teori, perdagangan memungkinkan setiap negara berspesialisasi dalam produksi barang yang paling efisien bagi mereka, lalu menukarkannya di pasar dunia. Namun, seperti yang dijelaskan Oatley, praktiknya tidak sesederhana itu. Perdagangan global sarat dengan kepentingan domestik, tekanan politik, dan strategi geopolitik.

*Contoh Kasus: Perang Dagang AS-Tiongkok Tahun 2025

Memasuki awal tahun 2025, dunia dikejutkan oleh keputusan pemerintahan Donald Trump yang kembali menjabat sebagai Presiden AS. Pemerintahannya mengumumkan tarif impor baru terhadap produk-produk Tiongkok dengan tarif mencapai 145%. Tindakan ini diambil sebagai respons atas dominasi Tiongkok dalam sektor manufaktur dan teknologi. Tiongkok membalas dengan tarif balasan sebesar 125% dan pembatasan ekspor rare earth yang penting untuk industri Amerika.

Konflik dagang ini tidak hanya memengaruhi kedua negara, tetapi juga menghantam ekonomi global. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, merasakan dampaknya dalam bentuk penurunan permintaan ekspor, ketidakpastian pasar, hingga tekanan terhadap nilai tukar. Ini menunjukkan bahwa perdagangan internasional bukan soal pasar bebas semata, tetapi juga arena pertarungan kekuatan dan kepentingan negara.

2.Sistem Moneter Internasional: Stabilitas yang Rapuh di Dunia Finansial

Isu moneter global tidak kalah pentingnya. Nilai tukar mata uang, arus modal internasional, dan stabilitas keuangan menjadi isu strategis yang bisa menentukan nasib ekonomi sebuah negara. Oatley menjelaskan bahwa dalam sistem moneter global, negara-negara berkembang sering kali berada di posisi yang tidak menguntungkan karena harus mengikuti arus kebijakan negara maju dan lembaga keuangan internasional seperti IMF.