DPMPTSP Jateng Pastikan Iklim Investasi Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

DPMPTSP Jateng Pastikan Iklim Investasi Tetap Menarik di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

SEMARANG, KOMPAS.com – Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan mencuatnya isu Perang Dunia Ketiga, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah menegaskan bahwa iklim investasi di wilayahnya masih tetap menarik bagi investor, baik domestik maupun asing.

Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengakui konflik global berpotensi berdampak pada investasi.

Meski demikian, ia menilai struktur ekspor serta ekosistem industri di Jawa Tengah masih menunjukkan daya saing yang kuat dan menjanjikan.

“Mungkin berimbas ya. Kalau melihat potensi ekspor Jawa Tengah itu sekitar 45 sekian persen ke Amerika, dan itu didominasi satu jenis, yaitu alas kaki. Memang ekosistem industri alas kaki di Indonesia itu ada di Jawa Tengah,” ujar Sakina saat dikonfirmasi, Jumat (23/1/2026).

Menurut Sakina, karakter industri di Jawa Tengah memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan provinsi lain.

Ia mencontohkan Jawa Barat yang kuat di sektor manufaktur kendaraan, sementara Jawa Tengah unggul dalam industri alas kaki yang telah terbangun ekosistemnya secara matang.

Ia juga menyampaikan bahwa asosiasi industri telah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap risiko perubahan geopolitik global, termasuk potensi perang tarif dan perubahan regulasi perdagangan internasional.

Namun demikian, Sakina menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi minat investor untuk menanamkan modal di Jawa Tengah.

“Dari Asosiasi Persepatuan Indonesia memang ada semacam warning-warning dan persiapan-persiapan ketika ada perang tarif atau regulasi yang berubah. Tapi kami melihat di tahun ini, ketika ada tarif dari Amerika yang ditetapkan sekian persen lalu turun dan lain sebagainya, ternyata Jawa Tengah masih menarik,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa investasi di Jawa Tengah hingga kini masih didominasi oleh negara-negara Asia Timur.

“Dominasinya investasi masih dari Asia Timur yang terus bertengger di situ,” ujarnya.

Sakina menilai hambatan ekspor langsung dari China ke Amerika Serikat justru membuka peluang strategis bagi Indonesia, termasuk Jawa Tengah, sebagai alternatif tujuan investasi.

“Artinya mungkin ada kendala ketika ekspor langsung dari China ke Amerika, tapi tidak untuk dari Indonesia ke Amerika. Ini yang kemudian menjadi daya tarik dan competitiveness untuk melakukan investasi di Jawa Tengah,” katanya.

Berdasarkan data DPMPTSP, lima negara dengan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Jawa Tengah pada 2025 adalah Hongkong sebesar Rp 12,92 triliun, Singapura Rp 11,34 triliun, Tiongkok Rp 10,13 triliun, Korea Selatan Rp 4,96 triliun, dan Samoa Barat Rp 2,96 triliun.

Total realisasi investasi PMA pada 2025 tercatat mencapai Rp 50,86 triliun atau 57 persen, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 37,64 triliun atau 42 persen.

Secara keseluruhan, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp 88,5 triliun atau melesat 112,98 persen dari target Rp 78,33 triliun.

Untuk tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan pertumbuhan investasi sebesar 10,13 persen sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), sembari menunggu penetapan target resmi dari Kementerian Investasi dan BUMN.