Dampak Pembengkakan Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung terhadap Keuangan KAI
PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang sering disingkat KAI, kini menghadapi tekanan keuangan yang signifikan akibat pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB), yang dikenal dengan nama Whoosh. Hal ini diperparah oleh pendapatan operasional yang minim dari proyek tersebut.
Handi Rizsa Idris, seorang peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Wakil Rektor Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa pembengkakan biaya pembangunan KCJB telah meningkat dari US$6,07 miliar menjadi US$7,27 miliar, yang setara dengan sekitar Rp110,5 triliun pada tahun 2022. Ini menciptakan selisih biaya sekitar Rp21,4 triliun dibandingkan dengan anggaran awal.
Menurut Handi, pembengkakan biaya ini disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar dan peningkatan biaya yang harus ditanggung oleh KAI sebagai pemimpin konsorsium. "KAI bertanggung jawab atas porsi terbesar dari tambahan biaya tersebut. Dari total cost overrun Rp21,4 triliun, sekitar Rp3,2 triliun ditanggung oleh konsorsium BUMN Indonesia, sedangkan konsorsium China menanggung Rp2,1 triliun," ungkapnya dalam sebuah webinar yang membahas dampak proyek kereta cepat ini.
Sisa pembiayaan untuk proyek ini diperoleh melalui pinjaman dari China Development Bank sebesar Rp16 triliun, yang menjadikan proyek KCJB sebagai beban finansial tambahan bagi KAI. Selain itu, tekanan keuangan semakin meningkat karena pendapatan operasional kereta cepat ini belum mampu menutupi kewajiban bunga utang yang harus dibayarkan.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Indef, bunga utang yang harus dibayarkan mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun. Sementara itu, pendapatan kotor KCJB pada tahun 2024 diperkirakan hanya sekitar Rp1,5 triliun, dengan asumsi terdapat 6 juta penumpang dan tarif rata-rata Rp250.000 per perjalanan.




