Aktivis 98 Soroti Ketidakcocokan Data BPS dengan Realita di Lapangan
Sumber Foto: Warta Bulukumba
Warta Lapangan

Aktivis 98 Soroti Ketidakcocokan Data BPS dengan Realita di Lapangan

Malam di Makassar, suasana kota tampak tenang dengan cahaya temaram yang menerangi sudut-sudut jalan. Di beberapa warung kopi, para pengunjung terlibat dalam obrolan hangat setelah menjalankan ibadah tarawih. Di antara kerumunan tersebut, Syamsir Anchi, seorang aktivis yang dikenal sejak tahun 1998, duduk dengan tatapan serius.

Dalam perbincangan yang berlangsung pada Selasa malam, 4 Maret 2025, Syamsir mengungkapkan keprihatinannya terhadap data yang disampaikan oleh pemerintah. "Angka-angka itu tidak pernah menyentuh rakyat kecil," ujarnya dengan suara pelan namun tegas. Ia menegaskan bahwa meskipun pejabat pemerintah mengklaim inflasi rendah, kenyataannya harga kebutuhan di pasar tetap tinggi.

“Pedagang merugi, petani menjerit, tapi pemerintah malah sibuk merayakan angka,” tambahnya. Pernyataan ini mencerminkan ketidakpuasan sejumlah kalangan terhadap kondisi ekonomi yang dirasakan di lapangan, meskipun secara statistik Indonesia dikategorikan memiliki inflasi terendah.

Di tengah ketegangan ekonomi, sejumlah pedagang juga merasakan dampak dari situasi tersebut. Di pasar-pasar yang masih basah karena sisa hujan, seorang ibu terlihat menghitung uang di tangannya. "Harga-harga memang turun," katanya. "Tapi pembeli tetap sepi. Entah karena uang mereka tak cukup, atau karena rasa takut akan esok yang tak pasti."

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi nasional per Februari 2025 tercatat mengalami deflasi sebesar -0,09 persen secara Year on Year (YoY). Angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan deflasi terendah di antara 24 negara anggota G20. Namun, realitas yang dirasakan oleh masyarakat sering kali berbeda dengan angka-angka statistik yang dilaporkan.