Upaya Dinas Kelautan dan Perikanan Bali Tingkatkan Sektor Perikanan Budidaya
DENPASAR – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali meningkatkan upaya dalam sektor perikanan budidaya setelah mendapatkan arahan dari Gubernur Bali, Wayan Koster. Arahan tersebut menekankan pentingnya mempercepat pencapaian visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana.
Salah satu fokus utama dari arahan Gubernur adalah transformasi ekonomi dengan mengutamakan Ekonomi Kerthi Bali, yang mencakup sektor pertanian, kelautan, perikanan, industri, UMKM, serta ekonomi kreatif dan digital. Koster menargetkan kedaulatan pangan dengan memastikan komoditas strategis dapat dipenuhi dari produksi lokal, termasuk dari sektor perikanan melalui penguatan produksi dan hilirisasi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, I Putu Sumardiana, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang menggalakkan hilirisasi produk kelautan dan perikanan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah. Ia menjelaskan bahwa pemetaan potensi kelautan dan perikanan di Bali telah dilakukan secara menyeluruh.
- Luas lautan Bali mencapai sekitar 915,3 hektare atau 62 persen dari total luas daratan, dengan garis pantai sepanjang 651 kilometer.
Sumardiana menegaskan bahwa meskipun Bali memiliki wilayah yang relatif kecil, potensi kelautan dan perikanannya sangat besar dan tersebar di hampir seluruh kabupaten pesisir dengan karakteristik komoditas yang bervariasi.
Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Bali tahun 2024 menunjukkan beragam komoditas unggulan di setiap kabupaten. Misalnya, Kabupaten Badung didominasi oleh tembang garis kuning, lemuru, tuna sirip kuning, dan lobster. Sementara itu, Tabanan menghasilkan layur, kakap merah, dan kerapu. Jembrana memiliki lemuru dan tongkol lisong, sedangkan Buleleng dikenal dengan tuna, cakalang, dan cumi-cumi.
Karangasem menjadi salah satu daerah dengan capaian produksi tertinggi, terutama dalam jenis tongkol krai yang mencapai 20.475,34 ton. Denpasar juga mencatat produksi signifikan seperti cakalang dan tuna sirip kuning. Beberapa daerah lain, termasuk Jembrana dan Klungkung, juga berkontribusi terhadap produksi perikanan di Bali.
Meskipun produksi perikanan tangkap tergolong stabil, faktor cuaca dan musim paceklik sering mempengaruhi aktivitas nelayan. Oleh karena itu, pemerintah mulai memprioritaskan sektor budidaya yang dinilai lebih stabil dan berkelanjutan. Contohnya adalah budidaya bandeng di laut di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, yang telah memasuki tahap hilirisasi.
“Dua minggu lalu kita sudah panen perdana budidaya bandeng di laut sekitar 3 ton. Itu langsung dibeli pelaku usaha. Artinya kapasitas dengan 4 bulan masa pelihara itu sudah berjalan, jadi hulu hilirnya jalan,” jelas Sumardiana.
Pemerintah juga mendorong pengembangan budidaya tidak hanya untuk ekspor bibit, tetapi juga untuk menghasilkan ikan konsumsi. “Memang belum 100 persen, tapi bertahap. Kita harus mengubah mindset masyarakat karena budidaya butuh proses, sekitar empat bulan, tapi dampaknya masyarakat mendapat penghasilan lebih,” tambahnya.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, budidaya juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat pesisir. “Sekarang tidak hanya ekspor bibit, tapi dibudidayakan. Multiplayer effect-nya ada, tenaga kerja lokal banyak terserap,” imbuhnya.
Komoditas budidaya yang dikembangkan di Bali meliputi udang vaname, lele, nila, gurame, patin, bandeng, bawal air tawar, serta lobster mutiara dan lobster air tawar. Pasar ekspor untuk komoditas unggulan Bali seperti tuna, kerapu, dan bibit bandeng juga menunjukkan tren positif di tingkat internasional.
Kedepannya, pemerintah akan terus mendorong keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan ekspor, serta memperkuat hilirisasi agar sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi pilar utama ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.




