Jakarta – Perubahan besar sedang melanda dunia kerja akibat kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Diperkirakan, dalam waktu dekat, jumlah robot aktif akan melampaui jumlah tenaga kerja manusia, sebuah tren yang diperkirakan akan semakin nyata pada tahun 2026 dan seterusnya.
Rob Garlick, mantan kepala inovasi dan teknologi, menekankan bahwa pemilik bisnis selalu mencari cara untuk meningkatkan profitabilitas. Salah satu strategi yang semakin populer adalah mengganti fungsi pekerja manusia dengan robot dan AI. "Kita memiliki sistem ekonomi yang memprioritaskan profit," kata Garlick. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara profitabilitas dan kemajuan teknologi akan memicu pergeseran besar dalam dunia kerja.
Prediksi yang dilakukan oleh Garlick saat masih bekerja di Citi menunjukkan bahwa populasi robot AI akan melampaui jumlah pekerja manusia dalam beberapa dekade mendatang. Laporan tersebut memperkirakan bahwa jumlah robot aktif, termasuk robot humanoid dan kendaraan otonom, akan melonjak hingga 1,3 miliar pada tahun 2035 dan mencapai 4 miliar pada tahun 2050.
Adopsi robotik dipacu oleh efisiensi biaya yang ditawarkan. Sebuah laporan dari Citi menunjukkan bahwa robot dapat mencapai titik impas dalam waktu yang sangat singkat jika menggantikan pekerja manusia. Sebagai contoh, robot seharga USD 15.000 dapat balik modal dalam waktu 3,8 minggu dengan menggantikan pekerjaan yang membayar USD 41 per jam.
Meski banyak keuntungan yang ditawarkan, meningkatnya populasi robot juga menimbulkan risiko, termasuk potensi hilangnya jutaan lapangan pekerjaan. Hal ini dapat berkontribusi pada ketidaksetaraan ekonomi dan memerlukan penyesuaian kebijakan yang signifikan. Selain itu, isu keamanan siber dan etika penggunaan AI dan robot juga menjadi perhatian utama.
Dalam menghadapi perubahan ini, adaptasi menjadi kunci bagi tenaga kerja manusia. Pekerja perlu fokus pada pengembangan keterampilan yang unik dan sulit digantikan oleh mesin, seperti kreativitas dan pemecahan masalah. Berikut adalah beberapa tips untuk beradaptasi:
Pemerintah dan institusi pendidikan juga perlu berperan dalam merancang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masa depan. Program pelatihan ulang bagi pekerja yang terdampak sangat diperlukan. Konsep seperti pendapatan dasar universal mungkin perlu dipertimbangkan sebagai jaring pengaman sosial.
Tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi dunia kerja, di mana teknologi AI dan robotika tidak hanya menjadi alat, tetapi juga pesaing dan rekan kerja. Dengan pemahaman dan strategi adaptasi yang tepat, manusia dapat menavigasi perubahan ini dan memanfaatkan peluang baru yang ada.