Ternate: Kota Perdagangan dengan Tingkat Pengangguran Pemuda Tinggi
Warta News Day - Pagi itu, saya berjalan melewati kawasan pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Kapal-kapal bersandar, kontainer ditumpuk rapi, dan aktivitas perdagangan tampak begitu ramai. Namun di sudut-sudut yang sama, saya melihat kelompok pemuda yang sekadar duduk melamun, menunggu waktu yang tidak jelas kapan akan berakhir. Mereka adalah wajah-wajah pengangguran di kota yang sejak ratusan tahun dikenal sebagai pusat perdagangan rempah di Maluku Utara.
Ironi yang menyakitkan inilah yang perlu kita angkat bersama. Ternate, dengan sejarah gemilang sebagai kerajaan maritim yang pernah menguasai jalur perdagangan rempah dunia, kini justru menghadapi paradoks yang memprihatinkan. Kota yang seharusnya menjadi magnet lapangan kerja bagi generasi mudanya, justru menjadi saksi bisu ribuan pemuda yang tidak memiliki pekerjaan.
Data resmi memang kadang berbeda dengan realitas di lapangan. Namun berbagai survei dan laporan dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pemuda di Kota Ternate konsisten berada di atas rata-rata nasional. Angka ini semakin mengkhawatirkan ketika kita melihat komposisinya. Bukan hanya lulusan SMA atau SMP yang menganggur, tetapi juga lulusan perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan daerah.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika kita mendengar cerita dari para orang tua. Mereka menyekolahkan anak-anak mereka dengan harapan besar, menjual tanah warisan, atau bahkan berhutang demi biaya kuliah. Namun setelah empat tahun atau lebih berjuang, yang menyambut mereka adalah lamaran kerja yang tidak pernah dibalas, atau lowongan yang membutuhkan pengalaman yang tidak pernah mereka miliki.
Mencari penyebab tunggal dari fenomena ini adalah kekeliruan besar. Masalah pengangguran pemuda Ternate adalah akumulasi dari berbagai faktor yang saling terkait dan menguatkan.
Pertama, ketidaksesuaian antara pendidikan yang diberikan dengan kebutuhan pasar kerja. Kurikulum di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Ternate memang telah dirancang dengan baik di atas kertas. Namun dalam praktiknya, lulusan yang dihasilkan seringkali tidak memiliki keterampilan yang langsung bisa digunakan oleh dunia usaha. Mereka menguasai teori, tetapi lemah dalam aplikasi. Mereka pandai ujian, tetapi kesulitan ketika harus langsung bekerja di lapangan.
Kedua, keterbatasan investasi dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Sebagai kota perdagangan, Ternate memang memiliki aktivitas ekonomi yang cukup tinggi. Namun aktivitas ini cenderung bersifat tradisional dan tidak menghasilkan banyak lapangan kerja formal. Pedagang kecil, nelayan, dan pekerja informal mendominasi struktur ekonomi Ternate. Sementara sektor industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti pabrik atau perusahaan besar, keberadaannya masih sangat terbatas.
Ketiga, mentalitas yang perlu dikritisi secara jujur. Ada sebagian pemuda Ternate yang memang memiliki pilihan untuk tidak bekerja di sektor-sektor tertentu. Mereka menginginkan pekerjaan yang "enak", ber-AC, dan bergaji besar tanpa mau memulai dari bawah. Namun saya percaya, jumlah mereka jauh lebih kecil dibandingkan dengan pemuda yang genuinely ingin bekerja tetapi tidak menemukan kesempatan.
Pengangguran pemuda bukan sekadar statistik dingin. Di balik angka-angka itu tersimpan tragedi kehidupan yang nyata. Ketika seorang pemuda tidak memiliki pekerjaan, ia kehilangan bukan hanya pendapatan, tetapi juga martabat, tujuan hidup, dan identitas sosial.
Saya pernah berbincang dengan seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun di kawasan Gamalama. Ia adalah lulusan terbaik jurusannya di sebuah perguruan tinggi ternama. Namun sudah tiga tahun ia menganggur. Setiap hari ia hanya membantu ibunya berjualan di pasar, sambil terus mengirim lamaran kerja yang tidak pernah mendapat jawaban. Matanya menyimpan kekecewaan yang mendalam, sekaligus ketakutan akan masa depan yang tidak jelas.
Pengangguran berkepanjangan juga berpotensi menimbulkan masalah sosial yang lebih luas. Pemuda yang tidak memiliki pekerjaan rentan terjerumus ke dalam perilaku negatif, mulai dari konsumsi alkohol hingga tindakan kriminal. Premanisme dan penyalahgunaan obat-obatan di kalangan pemuda Ternate, sayangnya, tidak bisa dipisahkan dari realitas minimnya lapangan kerja yang layak.




