Fresh Graduate: Banyak Lowongan, Tapi Kesempatan Terbatas
Sumber Foto: Kompasiana.com
Ekonomi

Fresh Graduate: Banyak Lowongan, Tapi Kesempatan Terbatas

Warta News Day - Setiap tahun, ribuan mahasiswa lulus dari berbagai kampus di Indonesia. Mereka datang dengan semangat, gelar baru, dan mimpi besar. Apalagi setelah wisuda, rasanya seperti baru saja memenangkan perang besar melawan skripsi. Tapi, begitu euphoria wisuda lewat, tiba-tiba muncul perasaan aneh yang menghantui "Terus sekarang, mau ngapain?"

Kalau kita lihat gedung-gedung pencakar langit di Jakarta atau Bandung, rasanya lowongan kerja itu bertebaran di mana-mana. Iklan di LinkedIn atau JobStreet pun muncul tiap menit. Tapi anehnya, pas kita coba masuk, pintunya kok kayak terkunci rapat? Inilah dilema klasik fresh graduate, lowongan melimpah tapi kesempatan terasa sempit banget.

Apalagi kalau lihat lowongan kerja untuk Fresh Graduate tapi "Butuh Pengalaman" Ini yang paling sering bikin kita geleng-geleng . Buka loker, tulisannya "Fresh graduate welcome", tapi di bawahnya ada syarat "Minimal pengalaman 1-2 tahun". Lah, gimana ceritanya? Kita kan baru lulus! Ujung-ujungnya, kita jadi sering insecure dan bertanya-tanya, "Gelar sarjana ini gunanya buat apa kalau tetap ditolak karena belum berpengalaman?"

Dulu saingan kita cuma teman sekelas buat rebutan nilai A. Sekarang? Satu posisi admin saja yang daftar bisa ribuan orang dari Sabang sampai Merauke. Karena sistemnya serba digital, tinggal sekali klik, semua orang bisa melamar. Kadang ini bukan lagi soal siapa yang paling pintar atau IPK-nya paling tinggi, tapi soal siapa yang paling "beruntung" atau paling cocok sama kriteria HRD yang kadang misterius. Proses nunggu panggilan interview itu benar-benar menguji kesabaran, lebih dari nunggu balasan chat dari gebetan!

Banyak dari kita yang akhirnya "banting setir". Lulusan Teknik tapi jadi Sales, atau lulusan Pendidikan tapi malah jaga di Bank. Awalnya mungkin ada rasa sedih karena ilmu yang dipelajari empat tahun seolah nggak kepakai. Tapi ya mau gimana lagi? Daripada menganggur, mending sikat dulu yang ada. Ini membuktikan kalau kita itu adaptif, walau kadang hati kecil masih sedikit nyesek.

Selain pusing sama CV, beban paling berat justru datang dari pertanyaan-pertanyaan "ajaib" pas acara keluarga.

"Sudah kerja di mana sekarang?" atau "Temanmu si itu sudah masuk perusahaan BUMN lho, kamu kapan?"

Maksud mereka mungkin baik, tapi jujur saja, itu bikin kena mental. Kita jadi merasa tertinggal, padahal kan setiap orang punya "garis start" dan "jalur lari" yang beda-beda.

Masa-masa jadi jobseeker ini memang berat, tapi coba deh geser sedikit sudut pandangnya. Ini sebenarnya masa buat kita "kenalan" lagi sama diri sendiri. Kalau pintu utama masih tertutup, coba cari jendela atau pintu samping: