Program Makan Bergizi Gratis di Rote Ndao Tingkatkan Kesejahteraan dan Gizi Anak
Sumber Foto: InfoPublik
Ekonomi

Program Makan Bergizi Gratis di Rote Ndao Tingkatkan Kesejahteraan dan Gizi Anak

Rote Ndao, InfoPublik – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan hanya memastikan anak-anak sekolah mendapatkan makanan sehat dan bergizi setiap hari, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, terutama perempuan.

Cerita dua pekerja dapur SPPG di Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bukti bagaimana program pemerintah ini membawa manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi keluarga mereka.

Yuliana Mandala (45), juru masak utama (chef) di dapur SPPG Lobalain 2 Mokdale, sudah enam bulan menjalani rutinitasnya menyiapkan makanan bergizi untuk para pelajar. “Saya senang sekali bisa bekerja di sini. Program ini bukan hanya memberi penghasilan tambahan bagi saya, tetapi juga kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak di sekolah,” ujar Yuliana, saat ditemui di SPPG Lobalain 2 Mokdale, Selasa (4/11/2025).

Sebelum bergabung di dapur SPPG, Yuliana menjalankan usaha kantin kecil di Pelabuhan Ba’a. Ia mengaku kini pendapatannya lebih stabil dan bahkan meningkat. “Dulu saya buka kantin, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi setelah ikut program ini, penghasilannya bertambah dan saya bisa membantu anak-anak kuliah,” ujarnya.

Yuliana memiliki empat anak—dua sedang kuliah dan dua lainnya masih di SMP, yang juga menjadi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengaku bangga bisa berperan ganda: sebagai ibu yang menyiapkan makanan bergizi di rumah dan juga bagi ratusan siswa di sekolah.

Rutinitas kerjanya tidak ringan. Ia dan tim dapur mulai memasak sejak pukul dua dini hari, setelah lebih dulu melakukan penyortiran bahan dan pengecekan kualitas bahan pangan. “Kami kerja sekitar 6–8 jam per hari, dan libur seminggu sekali. Meski capek, hati senang karena ini untuk anak-anak,” katanya.

Ia berharap pemerintah tetap melanjutkan program makan bergizi ini, terlepas dari pergantian kepemimpinan nasional. “Kami mohon program ini tidak dihapus. Program ini sangat membantu anak-anak kurang mampu dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat seperti kami,” ujarnya penuh harap.

Cerita serupa datang dari Reny M. R. S. Boik (42), Ketua Tim Pengemasan (packaging) di dapur yang sama. Ibu rumah tangga ini mulai bekerja sejak Juni lalu. “Saya senang bisa bantu keluarga dan anak-anak sekolah. Dulu hanya di rumah, sekarang bisa ikut bantu pemerintah dan dapat penghasilan,” tuturnya.

Meski harus bekerja sejak pukul tiga dini hari hingga siang hari, Reni menjalani pekerjaannya dengan semangat. “Kadang capek, tapi senang. Kalau masakannya banyak seperti ayam, bisa pulang sampai jam satu siang. Tapi semua terbayar karena kami merasa berguna,” ucapnya.

Dengan tiga anak yang masih bersekolah—dari SMA hingga SMP—Reni merasa program ini telah memberi dampak langsung pada keluarganya. “Anak-anak saya jadi lebih semangat sekolah, dan saya bisa bantu suami yang kerja serabutan. Kami berharap gaji bisa sedikit dinaikkan, dan logistik untuk dapur di Rote Ndao lebih lancar,” ujarnya.

Bagi Yuliana dan Reni, dapur SPPG bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah mereka berkontribusi menjaga generasi muda tetap sehat, berdaya, dan bersemangat belajar. “Program ini bukan hanya soal makan, tapi soal masa depan anak-anak Indonesia,” kata Yuliana menegaskan.

Program MBG di Kabupaten Rote Ndao menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan nasional yang dirancang Presiden Prabowo Subianto benar-benar menyentuh masyarakat akar rumput, memperkuat ekonomi keluarga, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya gizi bagi pendidikan anak-anak bangsa.