Pria di Bulukumba Ditipu Uang Palsu Saat Jual HP Melalui Media Sosial
Sumber Foto: Warta Bulukumba
Warta Lapangan

Pria di Bulukumba Ditipu Uang Palsu Saat Jual HP Melalui Media Sosial

Bulukumba, 22 Maret 2026 – Seorang pria bernama Khusnul Qhatib mengalami penipuan saat melakukan transaksi penjualan telepon genggam melalui media sosial. Kejadian ini berlangsung di Lapangan Sepak Bola Ujung Loe pada malam hari, saat ia bertemu dengan pembeli yang menjanjikan untuk membayar dengan uang tunai.

Transaksi dimulai setelah Khusnul memposting iklan penjualan HP miliknya di media sosial. Ia berharap dapat menemukan pembeli dengan cepat dan tidak lama kemudian, seorang pria menghubunginya untuk melakukan pembelian. Keduanya sepakat untuk bertemu di lokasi yang relatif sepi, namun tetap terbuka.

Kapolres Bulukumba, Restu Wijayanto, menjelaskan bahwa pada saat transaksi, pembeli menyerahkan uang pecahan Rp100 ribu dengan jumlah total Rp1,2 juta. Tidak ada kecurigaan dari Khusnul, dan ia menyerahkan telepon genggam tersebut kepada pembeli.

Namun, masalah muncul ketika Khusnul pergi untuk menyetor uang tersebut ke agen BRILink. Di sana, ia mendapatkan kabar mengejutkan bahwa uang yang diterimanya adalah uang palsu. “Setelah dicek oleh petugas BRILink, uang tersebut diketahui palsu,” ungkap Restu Wijayanto.

Akibat kejadian ini, Khusnul mengalami kerugian senilai Rp1,2 juta, sementara pelaku penipuan berhasil melarikan diri dan tidak dapat dihubungi setelah transaksi tersebut. Menyadari dirinya tertipu, Khusnul segera melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.

Penyelidikan Kasus

Kasus penipuan ini saat ini sedang ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bulukumba. Penyidik sedang berusaha mengungkap identitas pelaku dengan menelusuri komunikasi yang terjadi di media sosial. Kasat Reskrim, Muhammad Ali, menyatakan bahwa penyelidikan masih berjalan. “Kami sementara telusuri. Untuk pelaku juga masih dalam penyelidikan oleh anggota di lapangan,” ujarnya.

Modus Penipuan yang Makin Canggih

Pola penipuan menggunakan uang palsu bukanlah hal baru. Namun, dengan meningkatnya penggunaan media sosial dan metode transaksi COD (cash on delivery), modus ini semakin efektif. Media sosial memudahkan penjual dan pembeli untuk berkomunikasi, tetapi juga memberikan kesempatan bagi penipu untuk melakukan aksinya.

Dalam banyak kasus, penipu menggunakan akun anonim atau identitas palsu, sehingga sulit untuk ditelusuri. Meskipun banyak orang merasa lebih aman melakukan transaksi secara langsung, kenyataannya risiko tetap ada. Uang palsu dapat terlihat sangat meyakinkan, terutama dalam kondisi cahaya yang minim, sehingga sulit untuk dibedakan tanpa alat deteksi yang tepat.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana, seperti transaksi yang tampak biasa. Penting bagi masyarakat untuk selalu waspada dan melakukan verifikasi sebelum menyelesaikan transaksi, terutama ketika berurusan dengan uang tunai.