Pihak Dapur SPPG Keruak Bantah Isu Menu Berulat di Sekolah
WARTA LOMBOK - Pihak Dapur SPPG Lombok Timur Keruak, melalui Person in Charge (PIC) Pijot, Mitra YPIT Dhiaul Fikri, Ade Putra Kurniawan, menanggapi isu mengenai distribusi menu berulat yang diklaim berasal dari SPPG. Pernyataan ini disampaikan Ade saat bertemu dengan awak media di sekretariat Yayasan Dhiaul Fikri pada Rabu malam, 8 April.
Kejadian yang menjadi perbincangan tersebut berawal dari sebuah video yang beredar di grup Asisten Lapangan (Aslap) yang menunjukkan adanya ulat dalam omprengan. Menyikapi hal ini, Aslap langsung melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. Namun, setelah berkoordinasi dengan pihak sekolah, diketahui bahwa isi omprengan telah dibuang, sehingga sulit untuk membuktikan kebenaran adanya ulat.
"Sudah menjadi kesepakatan antara SPPG dan PIC satuan pendidikan bahwa jika ditemukan hal-hal yang kurang pada omprengan, langkah pertama yang harus diambil oleh PIC sekolah adalah melaporkan melalui grup WhatsApp. Kemudian, Aslap wajib mengganti omprengan yang dilaporkan bermasalah," jelas Ade.
Ia menambahkan, "Memang benar, kami menerima video yang menunjukkan adanya ulat di menu MBG pada satu omprengan dari salah satu PIC sekolah pada hari Senin, 6 April. Pada waktu yang sama, Aslap dan kepala SPPG langsung turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi omprengan tersebut, namun pihak sekolah menginformasikan bahwa menu itu sudah dibuang."
Ade menjelaskan bahwa pada saat itu, pihaknya berinisiatif untuk mengganti omprengan yang dilaporkan sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab SPPG kepada pihak sekolah. Namun, pihak sekolah menolak tawaran tersebut, menyatakan bahwa keadaan sudah aman.
Lebih lanjut, Ade menegaskan bahwa kejadian ini berada di luar kendali SPPG, karena mereka telah melakukan penyajian dan penyortiran bahan makanan dengan sangat teliti. Ia menganggap isu ini tidak masuk akal, terutama karena hanya terjadi pada satu omprengan dari total 3.287 omprengan yang disediakan.
"Secara logika, ulat yang terlihat dalam video masih hidup dan bergerak, padahal sayur tersebut telah dimasak pada suhu di atas 70°C. Ulat umumnya mati pada suhu 40°C-50°C. Jadi, agak mustahil jika ulat itu masih hidup, apalagi menu tersebut baru saja dimasak dan masih sangat segar. Ini hanya terjadi pada satu omprengan dari total 3.287 yang kami miliki," ungkapnya.




