Pertumbuhan Olahraga Raket di Indonesia: Tiga Lapangan Baru Setiap Hari
Olahraga raket saat ini tengah mengalami perkembangan yang pesat di Asia, termasuk di Indonesia. Aktivitas seperti tenis, bulu tangkis, padel, squash, dan pickleball tidak hanya menjadi sarana berolahraga, melainkan juga menjadi bagian dari gaya hidup serta cara bersosialisasi bagi masyarakat.
Menurut laporan dari ITF Global Tennis Report 2024, lebih dari 106 juta orang di 199 negara aktif bermain tenis, sementara squash dimainkan oleh lebih dari 20 juta orang di 185 negara. Namun, perhatian utama saat ini tertuju pada padel dan pickleball, dua cabang olahraga yang menunjukkan pertumbuhan tercepat di dunia. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya masyarakat yang mencari olahraga yang mudah dipelajari, menyenangkan, dan dapat dinikmati bersama teman atau keluarga.
Di Indonesia, minat terhadap olahraga raket meningkat dengan signifikan. Fenomena ini terlihat dari banyaknya fasilitas, komunitas, dan turnamen yang bermunculan di berbagai kota. Padel, misalnya, mengalami pertumbuhan yang luar biasa, dengan Indonesia Padel Report 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 295 persen sepanjang tahun 2025. Setiap hari, Indonesia menambah satu klub dan tiga lapangan baru, menunjukkan tingginya minat masyarakat serta arus investasi yang besar dalam sektor ini.
Di tengah pertumbuhan ini, Liga.Tennis turut berperan dalam membangun ekosistem olahraga raket secara profesional sejak tahun 2017. Saat ini, Liga.Tennis mengelola delapan klub yang tersebar di Bali, Solo, dan Sumba. Dima Shcherbakov, pendiri Liga.Tennis, menegaskan bahwa olahraga raket kini memasuki era keemasan dan pertumbuhan ini perlu didukung oleh ekosistem yang sehat, fasilitas berkualitas, serta program latihan yang terstruktur.
Model bisnis yang diterapkan Liga.Tennis terbukti efektif, dengan tingkat okupansi rata-rata mencapai 85 persen, jauh di atas standar industri. Pada periode 2024-2025, pendapatan mereka meningkat sebesar 35 persen, dengan margin laba bersih sebesar 31 persen. Laba bersih perusahaan bahkan tumbuh 105 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Salah satu strategi menarik yang diterapkan Liga.Tennis adalah kerja sama dengan hotel. Misalnya, lapangan di Hilton Resort Nusa Dua yang dikelola Liga.Tennis berhasil meningkatkan okupansi hingga dua kali lipat. Kerja sama ini memberikan keuntungan bagi kedua pihak: hotel memperoleh nilai tambah dari asetnya, sementara Liga.Tennis dapat memperluas jangkauannya tanpa harus membangun lapangan baru dari awal.
Calvin Juso Handono, seorang anggota yang bergabung sejak 2019, merasakan keistimewaan yang ditawarkan Liga.Tennis. Ia mengungkapkan, "Sejak awal saya merasa seperti di rumah. Banyak klub tenis, tapi tidak ada yang memberikan rasa memiliki seperti Liga.Tennis. Di klub mana pun saya bermain, kualitas dan suasananya tetap sama." Keyakinannya terhadap model bisnis Liga.Tennis membuatnya berinvestasi di Liga.Tennis Solo, klub pertama mereka di Pulau Jawa.
Ke depan, Liga.Tennis menargetkan untuk mengelola 77 klub dalam waktu sepuluh tahun. Dengan aplikasi digital Liga App yang hampir memiliki 100.000 anggota, mereka juga bersiap untuk melakukan ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Dimas menambahkan, "Olahraga raket menyimpan potensi besar, baik dari sisi bisnis maupun dampak sosial. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga untuk membangun komunitas yang lebih sehat dan aktif."




