Perempuan di Sektor Teknologi: 29% Tenaga Kerja Namun Hanya 12% di Posisi Kepemimpinan
Sumber Foto: Vietnam.vn
Teknologi

Perempuan di Sektor Teknologi: 29% Tenaga Kerja Namun Hanya 12% di Posisi Kepemimpinan

Warta News Day - Menurut laporan WomenHack, sebuah organisasi internasional yang menghubungkan talenta perempuan dengan perusahaan teknologi, persentase perempuan dalam angkatan kerja teknologi telah mencapai 29%, sedikit meningkat dari 28% pada tahun 2025. Ini adalah pertanda positif, tetapi laju peningkatannya masih lambat.

Distribusi berdasarkan bidang menunjukkan perbedaan yang mencolok: Perempuan menduduki 23% di bidang rekayasa perangkat lunak, 32% di bidang ilmu data, 44% di bidang UX/Desain, tetapi hanya 12% di posisi kepemimpinan senior (C-Suite). Hal ini mencerminkan "kemacetan" di tingkat manajemen, di mana perempuan seringkali tetap berada di posisi tingkat menengah dengan peluang terbatas untuk maju ke posisi senior.

Mungkin Anda juga suka

Selain WomenHack, beberapa laporan internasional lainnya juga telah menyediakan data tambahan:

Deloitte, sebuah firma audit dan konsultasi global yang dikenal di Vietnam, melaporkan bahwa perempuan mencakup 26,7% dari tenaga kerja teknologi global. Persentase perempuan dalam tenaga kerja perusahaan-perusahaan besar adalah sebagai berikut: Apple 35%, Google 34,4%, Microsoft 31,2%.

Boundev, sebuah platform analitik tenaga kerja teknologi, mencatat bahwa perempuan составляет 26% dari tenaga kerja STEM global, hanya meningkat 1% sejak tahun 2000. Yang menarik, 91% bisnis memproyeksikan promosi untuk perempuan di bidang teknologi pada tahun 2024, peningkatan signifikan dari 76% pada tahun 2019.

Worldmetrics, sebuah organisasi riset data global, melaporkan bahwa perempuan memegang 26% peran profesional di industri teknologi, meskipun 57% gelar STEM global dipegang oleh perempuan. Namun, hanya 12% CEO teknologi Fortune 500 adalah perempuan.

Angka-angka ini mengungkapkan sebuah paradoks: perempuan semakin banyak yang memiliki gelar di bidang STEM, namun kurang banyak yang menduduki peran inti di bidang teknik dan kepemimpinan senior. Alasan yang dikemukakan meliputi stereotip gender, budaya perusahaan yang tidak ramah, kurangnya dukungan, dan kesenjangan gaji yang terus berlanjut.

Namun, masih ada tanda-tanda positif. Banyak perusahaan besar telah menerapkan program "returnship" untuk wanita yang kembali ke industri setelah jeda. Program pelatihan intensif teknologi juga menunjukkan tingkat lulusan wanita yang hampir sama dengan lulusan pria. Selain itu, pengaturan kerja yang fleksibel dan kebijakan kompensasi yang transparan membantu mempertahankan wanita di industri untuk jangka waktu yang lebih lama.

Lanskap teknologi global pada tahun 2026 menunjukkan kemajuan nyata, tetapi itu belum cukup. Meningkatkan proporsi perempuan dalam angkatan kerja teknologi adalah titik awal, tetapi untuk mencapai kesetaraan sejati, industri perlu fokus pada mempertahankan talenta perempuan, meningkatkan budaya perusahaan, dan memperluas peluang kepemimpinan. Ini bukan hanya tentang keadilan, tetapi juga faktor penting untuk inovasi dan pembangunan berkelanjutan industri teknologi di masa depan.