Krisis Energi Global: Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga BBM
Sumber Foto: Tirto.id
Internasional

Krisis Energi Global: Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga BBM

Warta News Day - tirto.id - Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) dialami oleh negara-negara di Asia khususnya saat ini akibat perang yang terjadi di Timur Tengah. Iran yang menguasai Selat Hormuz masih memberlakukan penutupan kawasan tersebut dan menegaskan tidak akan ada negosiasi apapun dengan AS.

Selama lebih dari dua minggu terakhir, lalu lintas kapal di Selat Hormuz terganggu karena beberapa kapal diserang dan banyak kapal lainnya terjebak di kedua ujung selat, enggan mengambil risiko melintas.

Selat ini menjadi jalur utama bagi negara-negara Teluk untuk mengekspor minyak dan gas mereka ke pasar global, dengan sekitar 20 persen minyak dunia dan hampir seperlima gas alam cair (LNG) global melewati wilayah ini. Karena itu, gangguan di Selat Hormuz bukan hanya berdampak regional, tetapi juga global.

Gangguan pada Jalur Energi Global

Blokade dan serangan di selat Hormuz menyebabkan perusahaan energi besar seperti Qatar Energy, Shell, Kuwait Petroleum Corporation, dan Bapco menerapkan force majeure untuk menunda pengiriman di negara-negara Teluk.

Irak, salah satu produsen minyak terbesar dunia, harus memangkas produksi di Basra hingga 70 persen karena sebagian besar ekspornya melewati selat ini, seperti dilaporkan Al Jazeera (25/3/2026).

Arab Saudi menutup kilang Ras Tanura dan memindahkan sebagian produksi melalui jalur pipa ke pelabuhan Yanbu, namun pasokan ke Asia tetap berkurang.

Uni Emirat Arab juga menutup kilang terbesar mereka dan mengalihkan ekspor melalui pipa. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga hampir $120 per barel. Sektor LNG juga terdampak berat karena Qatar dan UAE menunda produksi.

Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada LNG dari Teluk, seperti China, India, Bangladesh, dan Korea Selatan, merasakan dampaknya langsung melalui kenaikan harga gas dan energi.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran tidak hanya berdampak pada minyak dan gas, namun juga mengancam pasokan pupuk dan bahan penting pertanian di seluruh dunia, terutama karena terjadi saat musim tanam global sedang berlangsung.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan ini “mencekik” aliran energi dan pupuk pada momen yang sangat krusial, sehingga bisa berdampak langsung pada produksi pangan dunia.

“Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan mencekik pergerakan minyak, gas, dan pupuk pada saat kritis dalam musim tanam global. Di seluruh wilayah dan sekitarnya, warga sipil mengalami penderitaan serius dan hidup dalam ketidakamanan yang mendalam,” ujar Guterres di akun X miliknya @antonioguterres.

“PBB berupaya meminimalkan konsekuensi perang. Dan cara terbaik untuk meminimalkan konsekuensi tersebut jelas: Akhiri perang – segera,” tegasnya lagi.

Perusahaan energi milik Uni Emirat Arab, ADNOC, mengungkapkan bahwa CEO mereka, Sultan Al Jaber, bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, untuk membahas gangguan pasar energi global akibat perang dengan Iran.

Dalam pertemuan tersebut, keduanya sepakat bahwa keamanan energi sangat berkaitan langsung dengan keamanan global, artinya jika pasokan energi terganggu, maka stabilitas dunia juga ikut terancam.

"Kami membahas fakta bahwa keamanan energi sama dengan keamanan global, dan bahwa memulihkan jalur bebas melalui Selat Hormuz adalah satu-satunya solusi jangka panjang untuk menstabilkan pasar global," bunyi pernyataan resmi dari perusahaan tersebut.

Mereka menekankan bahwa solusi paling penting dan berkelanjutan untuk menstabilkan pasar global adalah dengan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang saat ini terganggu akibat konflik.

Desakan untuk membuka Selat Hormuz juga datang dari Ketua DPR AS, Mike Johnson. Mike juga menyebut jika operasi militer AS di Iran akan segera berakhir.

"Operasi Epic Fury hampir selesai. Maksud saya, saya pikir misi yang telah didefinisikan dengan sangat jelas di awal, tujuannya telah tercapai," kata Mike dikutip NBC News (26/3/2026).