Penutupan Lapangan Karang: Warga Kotagede Mencari Alternatif untuk Berolahraga
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Sejak awal Januari 2026, Lapangan Karang di Kotagede mengalami penutupan sementara yang berdampak signifikan bagi komunitas setempat. Pemerintah Kota Yogyakarta mengambil langkah ini untuk melakukan perawatan rumput yang mengalami kerusakan akibat pemakaian yang intensif. Penutupan ini direncanakan berlangsung hingga bulan Juni mendatang.
Lapangan Karang dikenal sebagai salah satu ruang publik yang paling digemari oleh warga. Setiap pagi, jalur jogging di sekeliling lapangan ramai dipenuhi oleh orang-orang yang melakukan olahraga ringan. Sementara itu, pada sore hari, anak-anak muda biasa berlatih sepak bola, dan malam harinya, sejumlah komunitas lokal menyewa lapangan untuk menggelar pertandingan persahabatan. Namun, tingginya frekuensi penggunaan lapangan menyebabkan kondisi rumput semakin memburuk, dengan bagian tengah dan depan gawang yang terlihat gundul dan berpotensi menimbulkan risiko cedera bagi para pemain.
“Lapangan ini seperti rumah kedua bagi kami. Hampir setiap hari ada kegiatan di sini,” ungkap salah seorang warga yang rutin berolahraga di Lapangan Karang. Dengan penutupan sementara ini, mereka dihadapkan pada tantangan untuk mencari lokasi alternatif. Beberapa komunitas sepak bola kini beralih ke Lapangan Mancasan atau Sidokabul, meskipun jaraknya lebih jauh dari lokasi asal mereka.
Penutupan lapangan juga berdampak pada pedagang kecil yang biasanya menjajakan dagangan di sekitar area tersebut. Mereka kehilangan peluang untuk meraih keuntungan dari keramaian yang biasanya terjadi saat ada pertandingan. “Biasanya kalau ada sewa lapangan, banyak penonton beli minuman atau makanan ringan. Sekarang sepi,” keluh seorang pedagang kaki lima.
Walau demikian, warga memahami alasan di balik penutupan ini. Pemerintah Kota Yogyakarta menjelaskan bahwa perawatan rumput memerlukan waktu enam bulan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sebesar Rp 400 juta dialokasikan untuk memperbaiki media tanam, menanam ulang rumput jenis Zoysia Matrella, serta melakukan pemupukan dan perawatan intensif. Harapannya, setelah bulan Juni nanti, Lapangan Karang akan kembali hijau dan siap digunakan untuk berbagai aktivitas olahraga dengan kondisi yang lebih aman dan nyaman.
Di balik penutupan ini, terdapat harapan yang besar dari warga Kotagede. Mereka menantikan momen ketika lapangan kembali dibuka, tidak sekadar sebagai tempat berolahraga, namun juga sebagai ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Lapangan Karang telah lama menjadi simbol kebersamaan, dan perawatan yang dilakukan diharapkan dapat memperpanjang usia ruang publik yang sangat berarti bagi masyarakat Yogyakarta.




