Pemerintah Indonesia Percepat Strategi Eliminasi Tuberkulosis sebagai Tindakan Darurat
Sumber Foto: Warta Pontianak
Warta Cepat

Pemerintah Indonesia Percepat Strategi Eliminasi Tuberkulosis sebagai Tindakan Darurat

Pemerintah Indonesia menanggapi tingginya angka penularan dan kematian akibat tuberkulosis (TB) dengan mempercepat upaya eliminasi penyakit ini sebagai langkah darurat nasional. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus, yang menegaskan bahwa setiap menit dua orang terinfeksi TB, dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia akibat penyakit ini.

"Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan," ungkap Benjamin dalam konferensi pers yang diadakan pada Rabu, 8 April 2026.

Indonesia mencatat lebih dari 1 juta kasus TB setiap tahun, menjadikannya salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Sebagai respons terhadap situasi ini, pemerintah meluncurkan berbagai langkah cepat, termasuk deteksi dini masif melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menargetkan untuk menjangkau 130 juta masyarakat pada tahun 2026.

Strategi tambahan yang diimplementasikan meliputi:

  • Pelacakan kontak erat untuk mencegah penularan lebih lanjut.
  • Pemberian terapi pencegahan TB kepada individu berisiko.
  • Peningkatan peran masyarakat dan kader kesehatan dalam mendukung program eliminasi TB.

Benjamin menekankan pentingnya tindakan segera, dengan mengatakan, "Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa."

Dukungan dari komunitas internasional juga semakin diperkuat. Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, mengungkapkan bahwa Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia. Pada tahun 2024, diperkirakan akan terjadi sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV di Indonesia.

dr. Setiawan menambahkan, "TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan untuk mengatasi masalah ini."