Menjaga Etika Digital Generasi Z di Era Disinformasi
Sumber Foto: Kompasiana.com
Hukum

Menjaga Etika Digital Generasi Z di Era Disinformasi

Generasi Z tidak pernah mengenal dunia tanpa internet. Mereka tumbuh dengan smartphone di tangan, menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, dan membangun identitas sosial mereka melalui platform digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus beradaptasi dengan teknologi, gen Z adalah penduduk asli dunia digital---mereka berbicara bahasa internet seperti bahasa ibu, mengerti nuansa meme lebih baik daripada orang dewasa, dan memahami dinamika algoritma dengan intuisi yang hampir-hampir mengherankan.

Namun, kebebasan dan kenyamanan dalam berkomunikasi digital ini membawa harga yang cukup berat. Dunia daring yang seharusnya menjadi ruang untuk berbagi ide, belajar, dan terhubung dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia, kini juga menjadi medan pertempuran informasi yang tidak sehat. Setiap hari, hoaks beredar dengan kecepatan luar biasa. Kebohongan yang dikemas menarik dan emosional tersebar jauh lebih cepat daripada kebenaran yang membosankan. Disinformasi tidak hanya mengacaukan pikiran, melainkan memecah belah komunitas, menciptakan polarisasi, dan dalam kasus-kasus ekstrem, memicu kekerasan offline. Di tengah chaos digital ini, pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah: apa kompass etika yang seharusnya memandu perilaku daring kita?

Bagi masyarakat Indonesia khususnya, pertanyaan ini menjadi semakin mendesak. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim yang sekaligus memiliki penetrasi internet yang sangat tinggi, Indonesia memiliki keunikan: kita memiliki warisan etika dan nilai-nilai yang sudah ratusan tahun dikembangkan melalui tradisi hukum Islam, namun kita juga berada di garis depan revolusi digital. Perspektif hukum Islam memiliki banyak hal penting untuk dikatakan tentang etika komunikasi, tentang tanggung jawab dalam menyebarkan informasi, tentang pentingnya keadaban dalam berinteraksi. Saatnya kita mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai tersebut dapat menjadi pedoman bagi generasi Z dalam menjalani kehidupan daring mereka.

Budaya Digital dan Tantangan Perilaku Daring

Cara generasi Z berinteraksi di media sosial sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka tidak sekadar berbagi informasi; mereka membangun narasi tentang diri mereka sendiri, menciptakan persona online yang seringkali menjadi perpanjangan---atau bahkan distorsi---dari identitas real mereka. Sebuah postingan di Instagram bukan hanya tentang membagikan foto, melainkan tentang membangun brand pribadi, merekayasa citra, dan mencari validasi melalui like dan komentar. Media sosial menjadi stage, dan setiap pengguna adalah aktor dalam pertunjukan yang tidak pernah berhenti.

Dalam ekosistem ini, informasi menjadi mata uang. Postingan yang mendapat engagement tinggi adalah postingan yang menarik perhatian, menggerakkan emosi, atau memicu kemarahan. Algoritma yang mengatur apa yang muncul di feed pengguna dirancang untuk memaksimalkan waktu layar, yang berarti konten yang paling polarisasi, paling kontroversial, paling mengganggu pikiran---akan mendapat prioritas. Sistem ini menciptakan insentif yang perverse: berbagi informasi akurat yang membosankan mendapat sedikit engagement, sementara hoaks yang sensasional dapat menjadi viral dalam hitungan jam.

Fenomena ini bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ada kalkulasi di balik penyebaran hoaks. Terkadang, disinformasi disebarkan secara sengaja oleh pihak-pihak tertentu untuk mencapai tujuan politis atau ekonomi. Di lain waktu, hoaks tersebar karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian pengguna yang hanya membagikan apa yang mereka lihat tanpa verifikasi. Dalam kedua kasus, hasil akhirnya sama: ruang publik digital dipenuhi dengan kebohongan, dan kepercayaan publik terpuruk.

Dampak dari perilaku digital buruk ini sangat nyata dan terukur. Secara psikologis, konsumsi konten negatif dan polarisasi yang terus menerus dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan perasaan kelelahan emosional. Secara sosial, disinformasi dapat memecah belah masyarakat, menciptakan kelompok-kelompok yang saling tidak percaya satu sama lain, dan dalam kasus ekstrem, memicu kekerasan. Secara moral, ketika seseorang dengan santai menyebarkan hoaks tanpa menyadari akibatnya, ada pelanggaran terhadap tanggung jawab sosial yang fundamental.

Ambil contoh: ketika hoaks tentang penyebaran penyakit atau terorisme tersebar di WhatsApp, tidak jarang hal itu memicu rasa takut yang berlebihan, membuat orang melakukan tindakan irrasional, atau bahkan menghasut kekerasan terhadap kelompok tertentu. Kasus-kasus seperti ini bukan hanya anekdot; mereka adalah bukti nyata dari bagaimana perilaku digital yang ceroboh dapat merugikan orang-orang secara langsung.