Kekeringan Parah Melanda Bintan, Bupati Roby Ambil Langkah Cepat untuk Penyaluran Air Bersih
Sumber Foto: kepripedia.com
Warta Cepat

Kekeringan Parah Melanda Bintan, Bupati Roby Ambil Langkah Cepat untuk Penyaluran Air Bersih

Bintan - Kabupaten Bintan saat ini menghadapi situasi darurat akibat kemarau panjang yang menyebabkan pasokan air bersih terganggu secara signifikan. Beberapa waduk di daerah tersebut mulai mengalami penurunan volume air, bahkan satu di antaranya dilaporkan kering total.

Menanggapi kondisi ini, Bupati Bintan, Roby Kurniawan, segera mengadakan rapat dengan jajaran Forkopimda dan perwakilan lintas sektoral pada Rabu, 25 Maret 2026. Dalam pertemuan tersebut, Roby mengeluarkan instruksi tegas agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terlibat aktif dalam penanganan krisis air bersih.

"Jangan tunggu lama. Hari ini juga kita bagi wilayah mana saja yang menjadi tanggung jawab masing-masing OPD," kata Roby di Ruang Rapat II Kantor Bupati Bintan.

Ia menekankan pentingnya penyusunan skema penyaluran air bersih secara cepat. Camat dan lurah diminta untuk memperbarui data mengenai warga yang terkena dampak kekeringan. Selain itu, kolaborasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan lembaga lainnya juga diharapkan dapat mempercepat penanganan masalah ini.

Roby menegaskan bahwa penyaluran air bersih tidak hanya bergantung pada PDAM, tetapi juga harus memanfaatkan semua potensi yang tersedia, termasuk dukungan dari pihak swasta. "Kita masih punya sumber air lain. Manfaatkan semua kekuatan yang ada. Ini langkah darurat yang harus segera dilakukan," ujarnya.

Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan, saat ini terdapat 24.479 kepala keluarga yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Hampir seluruh kecamatan di Bintan terkena dampak, kecuali Mantang dan Tambelan yang masih dapat diatasi.

Kondisi kekeringan ini dinilai sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa fenomena kekeringan meteorologis di Pulau Bintan telah terjadi berulang kali sejak 1997. Tahun ini, situasinya mirip dengan kondisi terparah yang terjadi pada tahun 1997 dan 2015.

Secara geografis, curah hujan di Bintan mengalami penurunan sejak Februari hingga Maret. Biasanya, hujan baru kembali normal pada bulan April atau Mei. Namun, dampak kali ini terasa lebih berat akibat curah hujan yang sangat minim sejak awal tahun lalu.

Selain upaya fisik untuk penyaluran air, Roby juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berikhtiar secara spiritual. Ia menginstruksikan camat untuk menggelar salat Istisqa, yaitu salat memohon hujan. "Jalur darat kita suplai air bersih. Kalau memungkinkan, kita upayakan modifikasi cuaca dari jalur udara. Dan ikhtiar kita lengkapi dengan jalur langit lewat salat Istisqa," ungkapnya.

Rencananya, salat Istisqa akan dipusatkan di Kantor Bupati terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan di setiap kecamatan di daerah tersebut.