Indonesia Siap Jadi Motor Perdamaian Dunia Melalui Isu Gaza
23:05
Kesiapan Indonesia untuk berperan dalam misi perdamaian di Gaza dinilai sebagai momentum penting untuk menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor perdamaian dunia. Pandangan ini disampaikan oleh Idham Badruzaman, S.IP., M.A., Ph.D., dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus pakar Studi Perdamaian dan Transformasi Politik.
“Indonesia sebenarnya bukan sekadar penonton dalam isu perdamaian global. Sejak lama kita aktif mengadvokasi Palestina, baik melalui Sidang Umum PBB maupun Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),” ujar Idham dalam wawancara melalui saluran WhatsApp pada Sabtu (1/11).
Menurutnya, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kesiapan Indonesia mengirim pasukan perdamaian memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang konsisten menjalankan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Lebih jauh, Idham menilai bahwa keterlibatan aktif Indonesia di Gaza dapat menjadi simbol pergeseran peran Indonesia di panggung global, dari sekadar pengamat menjadi aktor yang berkontribusi langsung dalam penyelesaian konflik internasional.
“Langkah ini akan menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya vokal di forum internasional, tetapi juga hadir dengan aksi nyata,” tegasnya.
Namun, Idham mengingatkan agar diplomasi Indonesia tetap berhati-hati mengingat sensitivitas isu Palestina–Israel yang melibatkan kepentingan besar negara-negara seperti Amerika Serikat.
“Ketika berbicara tentang Palestina, berarti juga berbicara tentang kepentingan Amerika. Jangan sampai langkah kita justru menjadikan Indonesia sasaran politik global,” jelasnya.
Lebih lanjut, Idham menekankan pentingnya mengoptimalkan tiga jalur diplomasi utama untuk mendukung perdamaian di Gaza.
“Pertama, terus menggalang dukungan internasional di PBB; kedua, memperkuat solidaritas negara-negara Islam di bawah OKI; dan ketiga, membentuk tim khusus penyelesaian konflik Palestina agar diplomasi Indonesia lebih fokus dan berdampak,” paparnya.
Ia mencontohkan bagaimana pendekatan serupa pernah diterapkan oleh Jusuf Kalla dalam misi perdamaian di dalam negeri, seperti di Poso dan Aceh.
“Tim khusus itu akan membantu pemerintah memahami konteks lokal Gaza serta memberikan masukan strategis yang lebih komprehensif,” tambah Idham.
Idham menutup dengan menekankan bahwa momentum meningkatnya dukungan dunia terhadap two-state solution harus dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mendorong kemerdekaan Palestina yang nyata dan berkeadilan.
“Banyak negara sudah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Indonesia memiliki peluang besar menjadi motor penggerak untuk mewujudkannya,” pungkasnya. (FU)




