Program MBG Dorong Perekonomian Petani dan Kesehatan Siswa di Aceh
Warta News Day - PUTARAN.ID | BANDA ACEH — Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memberi dampak signifikan terhadap kebangkitan ekonomi petani dan nelayan lokal di Aceh. Sekretaris Tani Merdeka Aceh, Nabhani atau yang akrab disapa Pak Bhen, menyebut program tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi pelajar, tetapi juga menjadi motor penggerak perputaran ekonomi daerah.
Menurut Pak Bhen, implementasi MBG menghadirkan efek berganda (multiplier effect) yang nyata, terutama pada sektor pertanian, perikanan, hingga distribusi tenaga kerja lokal. Berbagai komoditas pangan hasil petani kini memiliki kepastian pasar yang lebih stabil seiring meningkatnya kebutuhan dapur MBG di sejumlah wilayah.
“Komoditas seperti bawang, cabai, tomat, sayuran, telur, hingga buah-buahan terserap secara konsisten. Begitu juga hasil perikanan seperti tuna dan udang yang permintaannya meningkat untuk memenuhi standar gizi program MBG,” ujar Pak Bhen di Banda Aceh.
Ia menjelaskan, aktivitas ekonomi di Pasar Induk Lambaro mengalami peningkatan signifikan, terutama untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dapur MBG di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Lonjakan permintaan tersebut tidak hanya memperkuat daya serap hasil produksi petani dan nelayan, tetapi juga menciptakan stabilitas harga serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Pak Bhen mengungkapkan, dirinya kerap turun langsung memantau pelaksanaan program di lapangan. Ia melihat perubahan nyata, khususnya pada para siswa yang kini lebih bersemangat mengikuti kegiatan belajar karena mendapatkan asupan gizi yang memadai setiap hari.
“Sebelum program ini berjalan, masih banyak siswa datang ke sekolah tanpa sarapan yang cukup. Sekarang mereka menunggu makanan bergizi setiap pagi. Dampaknya sangat terasa bagi kesehatan dan semangat belajar anak-anak,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya tata kelola program yang profesional dan akuntabel. Dengan dukungan anggaran yang besar, pelaksanaan MBG harus tetap mengedepankan standar kebersihan, transparansi, serta manajemen dapur yang baik agar kualitas makanan tetap terjaga dan manfaatnya berkelanjutan.
Lebih jauh, Pak Bhen mengajak petani Aceh untuk menangkap peluang ekonomi yang tercipta melalui program tersebut dengan menyesuaikan pola tanam sesuai kebutuhan pasar, seperti ketela, pisang, ayam, serta berbagai sumber protein lokal lainnya.
“Ini momentum kebangkitan ekonomi masyarakat. MBG bukan sekadar program sosial, tetapi langkah nyata yang menggerakkan sektor pertanian, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan Aceh,” pungkasnya.




