Last Night in Soho: Film Horor Nostalgia yang Stylish dan Kontroversial
Hiburan

Last Night in Soho: Film Horor Nostalgia yang Stylish dan Kontroversial

Warta News Day - RRI.CO.ID, Surabaya - Film Last Night in Soho jadi salah satu tontonan yang cukup unik karena menggabungkan drama, horor, dan nuansa nostalgia dalam satu cerita. Disutradarai oleh Edgar Wright, film ini terasa berbeda dari karya-karyanya yang biasanya lebih ringan. Kali ini, Wright membawa penonton ke suasana misterius dengan sentuhan visual yang stylish dan penuh warna.

Cerita film ini mengikuti Ellie, seorang mahasiswi desain mode yang diperankan oleh Thomasin McKenzie. Ia pindah ke London dan secara misterius bisa “masuk” ke kehidupan perempuan lain di era 1960-an, yaitu Sandie yang diperankan oleh Anya Taylor-Joy. Awalnya dunia masa lalu terlihat glamor dan penuh mimpi, tapi perlahan berubah menjadi gelap dan penuh teror.

Sejumlah reviewer luar negeri memuji kekuatan visual film ini salah satunya adalah Roger Ebert pada 2021 dalam website-nya yang menyebutkan bahwa film ini tampil stylish, terutama di bagian awal yang penuh energi dan musik khas era 60-an. Bahkan media seperti The Guardian pada 2021 juga menyebut film ini sebagai karya yang kaya visual dan penuh atmosfer nostalgia yang kuat.

Namun, tidak semua ulasan bernada positif. Dalam review www.whattowatch.com menyebutkan bahwa film ini memiliki pembukaan yang kuat, tetapi mulai kehilangan arah di bagian akhir cerita. Beberapa twist dianggap justru melemahkan pesan utama film dan membuat karakter terasa kurang berkembang.

Dari sisi kreator konten dan komunitas film, banyak yang menyoroti kekuatan film ini ada pada atmosfer dan gaya visualnya. Diskusi di Reddit.com menunjukkan bahwa banyak penonton menganggap film ini “sangat stylish dan ambisius”, meskipun ritmenya tidak selalu konsisten hingga akhir. Salah satu komentar menyebut film ini kuat di awal, tapi sedikit menurun di bagian penutup.

Meski begitu, ada juga reviewer yang tetap menikmati film ini sebagai hiburan. Dalam ulasan The Digital Fix, film ini disebut sebagai tontonan yang “seru dan menghibur meski terasa sedikit berantakan.” Artinya, meskipun tidak sempurna, film ini tetap punya daya tarik tersendiri, terutama bagi penonton yang suka gaya visual yang kuat.

Salah satu hal yang paling menonjol adalah penggunaan musik dan desain produksi. Banyak reviewer sepakat bahwa nuansa era 1960-an terasa hidup, mulai dari kostum, pencahayaan, hingga soundtrack. Bahkan ada yang menyebut film ini seperti “perjalanan nostalgia yang berubah jadi mimpi buruk,” karena perubahan tone yang cukup drastis.

Film “Last Night in Soho” adalah film yang cocok buat kamu yang suka tontonan beda dari horor biasa. Ceritanya memang tidak selalu mulus, tapi visualnya kuat, aktingnya solid, dan atmosfernya terasa unik. Film ini membuktikan bahwa gaya dan suasana bisa jadi kekuatan utama, meski cerita masih menyisakan pro dan kontra di kalangan penonton.

Kata Kunci / Tags

review film film last night in soho film time travel

You can share this post!