Integrasi Biochar sebagai Solusi Ketahanan Pangan di Era El Nino
Nasional

Integrasi Biochar sebagai Solusi Ketahanan Pangan di Era El Nino

Warta News Day - Oleh. Andi Bahrun.

Dosen Fakultas Pertanian UHO

JurnalPost.com – Salah satu dinamika lingkungan strategis alamiah terpenting saat ini adalah perubahan iklim global (global warming) dan anomali iklim (climate change). Perubahan iklim global tersebut, tidak akan hanya berdampak pada keseimbangan hidrologis (masukan dan kehilangan air) pada suatu daerah tangkapan hujan atau DAS, tetapi juga berdampak pada sistem usaha tani yang diusahakan diatasnya, terkait dengan ketersediaan air dan masa tanam. Penting untuk dipahami bahwa fenomena El Nino bukan hanya anomali iklim, tetapi yang juga harus diingat bahwa sistem pangan di Indonesia perlu menyesuaikan diri dengan perubahan cuaca ekstrim. Setiap episode El Nino menunjukkan penurunan curah hujan, pergeseran musim tanam, serta penurunan produktivitas lahan secara konsisten sehingga berimplikasi langsung pada penurunan produksi pangan, khususnya padi, yang kemudian biasanya memicu kenaikan harga dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi. Secara historis menunjukkan bahwa luas lahan yang terkena dampak kekeringan dapat mencapai ratusan ribu hektar. Oleh karena itu, respons kebijakan yang tidak hanya bersifat reaktif tetapi juga antisipatif melalui penguatan sistem adaptasi berbasis teknologi, infrastruktur pertanian, dan manajemen risiko yang terintegrasi.

Prediski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa wwal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia datang lebih awal dan diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya, sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah dan para pemangku kepentingan. Untuk mengantisipasi fenomena iklim terutama El Nino, diperlukan kebijakan penanggulangan yang bersifat menyeluruh dan melibatkan banyak pihak yang relevan mengingat fenomena anomali iklim dan konsekuensinya meliputi berbagai aspek yang sangat luas. Upaya pemerintah dalam menjaga pasokan dan harga pangan tetap stabil patut diapresiasi. Upaya tersebut meliputi penguatan sistem peringatan dini, penguatan cadangan pangan, optimalisasi pengelolaan air, optimalisasi penggunaan lahan, dan luas lahan tanam, serta peningkatan koordinasi dan sinergi. Namun, tantangan ketahanan pangan tidak hanya berasal dari faktor iklim, tetapi juga dari degradasi lingkungan, seperti rendahnya kandungan bahan organik tanah di beberapa daerah di Indonesia. Karena itu, diperlukan transformasi sistem pangan yang lebih komprehensif dan jangka panjang yang mencakup kebijakan produksi dan rehabilitasi ekosistem lahan. Hal ini akan memberikan dampak dalam ketahanan pangan nasional tidak hanya akan terlindungi dalam jangka pendek, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan iklim global dalam jangka panjang.

Pertanyaan mendasar dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional adalah sejauh mana kebijakan yang ada telah menyentuh aspek kualitas tanah sebagai fondasi utama produksi pertanian. Selama ini, kebijakan cenderung berfokus pada ekstensifikasi dan intensifikasi produksi, sementara persoalan mendasar seperti degradasi tanah, rendahnya kandungan bahan organik, serta menurunnya daya dukung lahan belum ditangani secara optimal. Tanah tropis Indonesia memiliki daya retensi air yang rendah dan rentan terhadap degradasi, yang menjadikannya faktor kunci dalam menentukan keberhasilan produksi tanaman, terutama ketika variabilitas iklim tinggi, seperti adanya fenomena El Niño.

Secara empiris, lebih dari 60% lahan di Indonesia telah mengalami penurunan kualitas, dengan kandungan bahan organik yang sering kali berada di bawah ambang ideal di Indonesia. Keadaan ini membuat input pertanian, terutama pupuk kimia, kurang efektif karena nutrisi mudah hanyut dan tidak tersimpan di dalam tanah. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tanpa peningkatan kualitas tanah hanya akan menghasilkan hasil jangka pendek yang lemah. Karena itu, paradigma kebijakan perlu bergeser dari hanya fokus pada peningkatan hasil produksi menjadi pendekatan yang lebih komprehensif, yaitu memulihkan dan menjaga kesehatan lahan sebagai dasar keberlanjutan sistem pangan.

Terkait hal tersebut, biochar merupakan solusi berbasis sains yang memiliki banyak potensi untuk meningkatkan kualitas tanah dan mendukung agenda pertanian berkelanjutan untuk generasi mendatang. Sebagai bahan kaya karbon yang terbuat secara pirolisis yaitu proses pembakaran limbah biomassa seperti sekam padi, tandan kosong kelapa sawit, kulit durian, batok kelapa dan lainnya, dalam kondisi tanpa atau terbatas oksigen yang dapat meningkatkan sifat fisik, kimia, dan biologis tanah, seperti kemampuannya menahan air, ketersediaan nutrisi, dan aktivitas mikroorganisme tanah. Selain itu, penggunaan biochar sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dengan mengoptimalkan limbah pertanian yang melimpah di Indonesia, sekaligus berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penyimpanan karbon jangka panjang. Integrasi biochar dalam kebijakan pertanian nasional adalah langkah strategis yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat ketahanan sistem pangan dalam menghadapi perubahan iklim global. Beberapa langkah konkret dapat dilakukan:.

Pertama, integrasi biochar dalam kebijakan ketahanan pangan dan adaptasi perubahan iklim. Biochar perlu menjadi bagian solusi secara resmi, bersama dengan teknologi lain dalam program nasional.

Kedua, penguatan penelitian dan hilirisasi. Perguruan tinggi dengan bersinergi kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan para pelaku usaha perlu didorong untuk mengembangkan formulasi biochar spesifik lokasi, sekaligus memastikan bahwa teknologi produksi dapat diadopsi secara luas oleh petani.

Ketiga, insentif dan skema ekonomi untuk petani. Biochar akan sulit diadopsi dalam skala besar tanpa dukungan kebijakan berupa subsidi, pelatihan, dan akses terhadap teknologi.

Penguatan ketahanan pangan nasional di masa mendatang perlu difokuskan pada pendekatan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, salah satunya adalah mengintegrasikan biochar ke dalam berbagai program pertanian strategis. Biochar dapat digunakan dalam skema bantuan produksi, program desa pangan mandiri, dan pengembangan daerah pertanian. Penggunaan biochar terintegrasi dengan berbagai jenis pupuk dan mikroba tanah bukanlah satu-satunya solusi, tetapi memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas tanah secara keseluruhan. Dalam konteks ini, beberapa daerah di Indonesia memiliki peluang strategis untuk berfungsi sebagai laboratorium alami dalam pengembangan dan implementasi inovasi penggunaan biochar berbasis sumber daya lokal yang terintegrasi dengan kebijakan nasional.

Baca Juga

Pascamunas X 2026, DPP LDII Beraudiensi dengan Kemendagri untuk Perkuat Kolaborasi Ketahanan Pangan

Budidaya Cabai Pekarangan Dorong Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Wette’e

Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang dibuka atau intensitas input produksi yang diberikan, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas dan kesehatan tanah sebagai pondasi pengembangan sistem pertanian. Fenomena El Niño yang bersifat siklik akan memberikan peluang terjadinya krisis pangan terus berulang dengan dampak yang semakin luas jika tanpa upaya pemulihan dan penguatan daya dukung tanah, Oleh karena itu, paradigma kebijakan perlu bergeser dari pendekatan reaktif terhadap krisis menuju strategi preventif yang berfokus pada rehabilitasi ekosistem tanah sebagai basis ketahanan pangan jangka panjang.

Biochar adalah salah satu inovasi yang telah terbukti secara ilmiah dapat memperkuat struktur dan fungsi tanah, sehingga relevan untuk diintegrasikan ke dalam kebijakan pangan nasional. Biochar jika diintegrasikan dengan pupuk organik serta penggunaan mikroba tanah dapat membantu meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan lingkungan, serta untuk mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, keputusan kebijakan yang dibuat saat ini akan menentukan apakah setiap siklus El Niño menjadi sumber krisis berulang atau peluang untuk mengubah sistem pangan menjadi sistem yang lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih berkelanjutan.

Tags: Ketahanan Pangan Krisis Pangan

You can share this post!