Warta News Day - INDOPOLITIKA – Pernyataan Donald Trump di platform Truth Social yang menyatakan kegembiraannya atas kematian mantan pejabat penegak hukum Robert Mueller bukan sekadar kontroversi biasa.
Ini adalah cermin dari perubahan wajah politik modern di mana batas antara kritik, kebencian, dan dehumanisasi semakin kabur.
Dalam tradisi kepemimpinan yang sehat, kematian bahkan terhadap lawan politik, selalu disikapi dengan penghormatan minimum. Bukan karena kedekatan, tetapi karena ada norma dasar yang menjaga martabat publik.
Namun ketika seorang tokoh besar justru menyatakan “senang” atas kematian seseorang, maka yang runtuh bukan hanya etika personal, melainkan juga standar moral yang selama ini menjadi penyangga kehidupan demokrasi.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana politik kini bergerak dari adu gagasan menjadi adu emosi. Lawan tidak lagi dipandang sebagai pihak berbeda pandangan, melainkan sebagai ancaman yang harus “disingkirkan”, bahkan secara simbolik melalui pernyataan yang merayakan kematian.
Dalam jangka panjang, pola ini berbahaya karena membentuk publik yang ikut terbiasa melihat kebencian sebagai hal wajar.
Lebih jauh, pernyataan semacam ini juga berpotensi merusak kepercayaan terhadap institusi. Robert Mueller bukan sekadar individu, tetapi representasi dari sistem penegakan hukum. Ketika kematiannya disambut dengan kebencian terbuka, pesan yang muncul adalah bahwa institusi hukum bisa diperlakukan sebagai musuh pribadi, bukan pilar negara.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal siapa benar dan siapa salah dalam konflik politik masa lalu. Pertanyaannya lebih mendasar: apakah kita ingin menjadikan politik tanpa empati sebagai norma baru?
Jika jawaban atas pertanyaan itu adalah “tidak”, maka publik perlu menyadari bahwa ucapan semacam ini bukan sekadar gaya komunikasi keras, melainkan tanda dari kemunduran moral dalam ruang publik. (Red)