Bisnis Prompt AI: Peluang Emas bagi Kreator Konten
Sumber Foto: Universitas Muhammadiyah Surakarta
Teknologi

Bisnis Prompt AI: Peluang Emas bagi Kreator Konten

Warta News Day - Dalam beberapa tahun terakhir, kemampuan akal imitasi (AI) generatif berkembang pesat. Pengguna hanya perlu mengetik beberapa kata, lalu model seperti ChatGPT, Google Gemini, Grok, Midjourney, atau DALL-E bisa mengubahnya menjadi visual yang memukau.

Prompt adalah sebutannya. Instruksi yang ditujukan kepada model AI untuk menghasilkan konten, baik teks, gambar, maupun video. Namun belakangan pembuatan foto dan gambar hasil AI kian digandrungi.

Pewartaan Tempo mencatat, sejumlah kreator konten mulai rutin membagikan tutorial dan prompt gratis di media sosial. Melalui cara tersebut, para kreator mulai meraup pendapatan, mulai dari penjualan ebook berisi kumpulan perintah untuk membuat foto dan video, layanan pembuatan konten visual berbasis AI, hingga menjadi pembicara dalam pelatihan pembuatan foto dan video menggunakan akal imitasi.

Dosen Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Gunawan Ariyanto, S.T., M.Comp.Sc, Ph.D. menilai fenomena bisnis prompt sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi AI.

Menurutnya, cara masyarakat berinteraksi dengan AI saat ini sebagian besar masih melalui perintah teks atau prompt yang dimasukkan lewat antarmuka percakapan.

“Kecerdasan buatan atau AI ini, cara kerjanya yang paling sering digunakan masyarakat sekarang memang melalui prompt. Artinya pengguna memberi instruksi melalui chat, lalu AI menjalankan perintah itu,” ujar Gunawan saat ditemui, Sabtu (6/3/2026).

Gunawan menjelaskan, di masa mendatang interaksi dengan AI kemungkinan tidak hanya melalui prompt. Teknologi lain seperti AI agent juga mulai berkembang, meski saat ini penggunaannya masih didominasi kalangan pengembang atau orang yang memiliki pemahaman teknis tentang sistem komputer.

“Pada sistem yang menggunakan antarmuka chat, mau tidak mau interaksinya memang berbentuk prompt,” katanya.

Arena Baru Pebisnis Prompt

Kumpulan prompt AI kini menjadi komoditas digital yang diperjualbelikan di berbagai marketplace prompt. Platform yang menjadi tempat bertemunya kreator dan pengguna prompt.

Salah satu yang paling dikenal adalah PromptHero, sebuah marketplace prompt yang berfokus pada koleksi prompt untuk generasi gambar AI, seperti Midjourney, DALL-E, dan Stable Diffusion.

“Di marketplace, jutaan prompt tersedia untuk ditelusuri, baik gratis maupun berbayar. Pengguna juga dapat memilih prompt berdasarkan gaya, tema, atau tujuan kreatif mereka,” jelas Gunawan. Ia memberi contoh, seperti kategori kantor dan produktivitas yang berisi prompt untuk membantu membuat email yang baik, menyusun laporan, hingga kebutuhan pendidikan seperti membantu menyelesaikan tugas-tugas akademik.

Selain PromptHero, ada juga marketplace lain seperti PromptBase, di mana penjual bisa menentukan harga prompt mereka (biasanya berkisar antara 1.99-10 USD per prompt). Di beberapa platform bahkan memungkinkan para kreator menawarkan prompt custom dengan harga lebih tinggi, tergantung kompleksitas dan nilai fungsinya.

Platform lain seperti TokoPrompt dan PromptVersal juga muncul di pasar Indonesia. TokoPrompt menyediakan prompt untuk berbagai kategori, dari desain, strategi bisnis, hingga produktivitas, dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah per prompt atau paket prompt.

Kumpulan prompt AI kini merangsek menjadi bagian dari ekonomi digital baru. Mulai dipasarkan melalui berbagai platform dengan harga yang bergantung pada kualitas, niche, dan nilai fungsinya.

Meski kehadiran AI kerap memicu konten provokatif dan hoaks, AI juga membuka inovasi baru dalam dunia pendidikan dan penyebaran pengetahuan. Gunawan mencontohkan bagaimana visualisasi sejarah yang dibuat dengan AI dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.

“Dulu pelajaran sejarah sering dianggap membosankan. Sekarang banyak video sejarah yang divisualisasikan dengan AI, sehingga kita bisa melihat bagaimana suasana perang atau kehidupan masa lalu dengan lebih jelas,” ujarnya.

Gunawan menilai pendekatan visual seperti itu dapat membantu masyarakat lebih mudah memahami suatu hal. Namun, agar praktik bisnis prompt berjalan sesuai kebutuhan dan tidak disalahgunakan oleh pengguna, perkembangan akal imitasi perlu diiringi kerangka etika yang jelas dalam penggunaannya.

Peluang Bisnis AI di Masa Depan

Fenomena bisnis prompt juga dilihat sebagai bagian dari siklus perkembangan ekonomi digital. Dosen Bisnis Digital UMS Novel Idris Abas, S.Kom., M.M., menilai kemunculan bisnis kumpulan prompt bukan sesuatu yang mengejutkan.

Menurutnya, dalam setiap fase perkembangan teknologi digital selalu muncul profesi dan model bisnis baru yang memanfaatkan teknologi tersebut.

“Jika melihat siklus bisnis di dunia digital, hal seperti ini sebenarnya wajar. Seperti ketika internet mulai digunakan untuk bisnis, muncul profesi seperti affiliate marketer dan dropshipper. Lalu ketika media sosial menjadi alat bisnis, muncul profesi seperti social media specialist,” ujar Novel.

Bisnis prompt dilihat Novel sebagai bagian dari upaya banyak orang untuk memanfaatkan momentum perkembangan teknologi akal imitasi. Namun tak semua praktik bisnis prompt punya tingkat keberlanjutan yang sama.

Penjualan prompt sederhana, seperti kumpulan prompt dalam bentuk buku elektronik atau ebook, menurutnya bisa jadi hanya tren sementara yang memanfaatkan momentum popularitas AI. Sebaliknya, pada level yang lebih kompleks, seperti prompt engineering, marketplace prompt, hingga perancangan alur kerja berbasis AI (AI workflow design), sektor ini berpotensi berkembang menjadi bidang profesional baru dalam ekonomi digital.

Novel menilai nilai ekonomi prompt AI muncul dari kemampuannya meningkatkan efisiensi kerja. Kualitas hasilnya sangat bergantung pada instruksi atau prompt yang diberikan pengguna.

“Dalam konteks bisnis, efisiensi waktu dan kualitas output itu memiliki nilai ekonomi. Dengan prompt yang tepat, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam bisa diselesaikan dalam hitungan menit,” ujarnya.

Potensi pasar prompt AI di Indonesia pun dinilai cukup besar. Hal ini didukung oleh tingginya jumlah pengguna teknologi digital, pelaku usaha, pekerja lepas, hingga kreator konten yang mulai memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Meski demikian, karakter pasar prompt AI tergolong unik karena banyak kreator juga membagikan prompt secara gratis di media sosial. Di sisi lain, marketplace prompt seperti PromptBase juga mulai berkembang sebagai tempat jual beli prompt secara global.

Karena itu, Novel memprediksi nilai ekonomi di masa depan tak hanya berasal dari penjualan prompt itu sendiri, tetapi dari ekosistem AI yang lebih luas. “Ke depan kemungkinan nilai ekonominya bukan hanya dari prompt, tetapi dari ekosistemnya. Misalnya pelatihan AI, sistem automasi berbasis AI, template workflow, hingga integrasi AI dalam proses bisnis,” pungkas Novel.