Warta News Day - Jakarta – Dinamika aksi demonstrasi mahasiswa dan pola pengamanan aparat kepolisian menimbulkan keinginan adanya perbaikan kedepannya secara baik. Politisi senior dan pakar hukum. Abdul Rachman Thaha (ART) menekankan pentingnya menjaga marwah intelektual dalam setiap gerakan mahasiswa.
ART mengingat kembali pengalamannya aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Tradisi gerakan mahasiswa Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam memperjuangkan isu politik dan hukum nasional, namun tetap berlandaskan etika.
“Gerakan mahasiswa itu identik dengan nalar dan argumen. Kalau sudah kehilangan kendali dalam ucapan dan gestur, maka identitas intelektualnya ikut dipertaruhkan,” ujarnya Dalam pernyataannya di Jakarta, Sabtu (28/2),
ART yang juga sekjen Laskar Merah Putih itu menilai, aksi yang diwarnai kata-kata kasar atau gestur provokatif justru berpotensi mengaburkan substansi tuntutan. Ia mencontohkan beredarnya potongan video aksi mahasiswa yang viral di media sosial dan kemudian memunculkan respons berantai.
“Ketika publik lebih sibuk membahas perilaku demonstran daripada isi tuntutannya, di situlah pesan utama menjadi tenggelam,” kata ART yanh juga Anggota DPD RI periode 2019–2024 dari Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah itu.
Kritik terhadap Pendekatan Simbolik
Tak hanya mahasiswa, ART juga mengkritik pendekatan aparat dalam mengawal aksi. Ia menyoroti penggunaan atribut keagamaan oleh sebagian aparat saat bertugas mengamankan demonstrasi.
Menurutnya, langkah tersebut terkesan simbolik dan kurang menyentuh akar persoalan komunikasi antara aparat dan demonstran.
“Pendekatan keamanan harus cerdas dan proporsional. Jangan sampai simbol yang dipakai justru ditafsirkan berbeda oleh publik,” ucapnya.
Usul Dialog Mahasiswa dengan Mahasiswa
Sebagai solusi, ART mengusulkan model pendekatan dialogis dengan melibatkan unsur mahasiswa dari lembaga pendidikan kepolisian, seperti Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian dan Sekolah Polisi Wanita.
Ia berpendapat, mahasiswa kepolisian dapat ditempatkan sebagai mitra dialog di lapangan untuk berdebat secara terbuka dengan mahasiswa demonstran.
“Kalau sama-sama mahasiswa, adu gagasan jauh lebih elegan daripada adu dorong,” ujarnya.
Menurut ART, pendekatan tersebut bukan hanya meredam potensi gesekan, tetapi juga menjadi ajang pembuktian kualitas akademik lembaga pendidikan Polri.
Sebagai Sekjen Laskar Merah Putih, ART menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan ruang ekspresi yang sehat. Ia mendorong mahasiswa tetap kritis, namun menjaga etika, dan aparat tetap tegas tanpa kehilangan kecerdasan komunikasi.
“Demokrasi yang matang bukan soal siapa paling keras, tetapi siapa paling kuat argumennya,” pungkasnya.