Warta News Day - Selama bertahun-tahun, tujuan emisi nol bersih sering disebut sebagai komitmen moral oleh negara dan bisnis dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, lanskap ekonomi global saat ini mengungkapkan realitas yang berbeda: nol bersih bukan lagi pilihan niat baik, tetapi telah menjadi syarat untuk bertahan hidup dan bersaing dalam sistem ekonomi baru.
Perubahan dalam kebijakan perdagangan global, standar produksi, dan perilaku konsumen membentuk seperangkat aturan baru. Pasar-pasar utama semakin memberlakukan standar lingkungan yang lebih ketat pada barang impor, memaksa bisnis untuk menunjukkan emisi rendah, transparansi rantai pasokan, dan tanggung jawab lingkungan.
Ini berarti bahwa model pertumbuhan yang berbasis pada bahan bakar fosil, ekstraksi sumber daya, dan produksi intensif karbon secara bertahap kehilangan keunggulannya. Sementara itu, industri yang terkait dengan energi bersih, teknologi hijau, dan material berkelanjutan muncul sebagai pendorong pertumbuhan baru.
Berbicara kepada seorang reporter dari Surat Kabar Industri dan Perdagangan, Dr. Le Thai Ha, CEO VinFuture Fund dan Green Future Fund ( Vingroup), mengatakan bahwa dunia sedang memasuki periode pendefinisian ulang yang mendalam terhadap konsep "pembangunan industri".
“Jika abad ke-20 dikaitkan dengan industrialisasi besar-besaran, yang berfokus pada produktivitas, skala, dan keuntungan, maka sejak pandemi Covid-19 dan terutama pada tahun 2020-an, kita menyaksikan pergeseran yang kuat menuju model industri yang berkelanjutan dan bertanggung jawab, berdasarkan teknologi tinggi, data, dan energi bersih,” ujar Dr. Le Thai Ha.
Pergeseran ini menjadi arah strategis bagi banyak ekonomi besar. Menurut Laporan Pembangunan Industri 2024 dari Organisasi Pembangunan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa, banyak negara di Kelompok Dua Puluh telah memasukkan konsep "industri hijau" atau "industri sirkular" ke dalam strategi pembangunan nasional mereka.