Warta News Day - JAKARTA, KOMPAS.com - Kelas menengah Indonesia disebut lebih membutuhkan lapangan kerja yang berkualitas hingga infrastruktur pendukung seperti transportasi publik dibandingkan dengan stimulus pemerintah.
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengamini bahwa kelas menengah Indonesia butuh lebih dari sekadar stimulus atau insentif.
"Betul jadi bukan hanya insentif atau stimulus, jadi memang perlu pekerjaan yang berkualitas," kata dia usai UOB Media Editors Circle How the Middle Class Thrives in Economics Volatility, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, salah satu sektor yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas adalah sektor manufaktur.
Lihat Foto
Ketika Indonesia mampu menarik lebih banyak foreign direct investment (FDI), pemerintah seharusnya mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja yang berkualitas.
Tak Hanya Pajak, Sederet Isu Mengancam Sektor Penerbitan
Artikel Kompas.id
"Itu tercermin dari skill yang dibutuhkan, salary yang lebih tinggi, dan juga kontrak kerja yang panjang," imbuh dia.
Enrico menjelaskan, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memberikan sekolah vokasi, sekolah kejuruan, hingga pelatihan untuk memberikan gambaran terkait pekerjaan di sektor tersebut.
"Untuk kelas menengah, jadi ada way out," ungkap dia.
Enrico menerangkan, ketika kesempatan tersebut datang, kelas menengah Indonesia punya pilihan dan akses terhadap lapangan kerja yang berkualitas.
"Dibanding mereka menunggu insentif. Jadi diberikan kail baru atau confidence bari dan sektor manufaktur itu kunci untuk mengembalikan hal ini, jadi penting sekali mereka menyerap tenaga kerja," ucap Enrico.
Manufaktur pegang peran penting dorong ekonomi Indonesia
Lihat Foto
Enrico berujar, di tengah kondisi masyarakat kelas menengah yang serba terhimpit, membuka sektor manufaktur menjadi hal yang krusial.
"Membuka padat karya di manufaktur, itu kuncinya," kata dia.
Ia menambahkan, saat ini pemerintah perlu meningkatkan sisi permintaan dibandingkan pasokan dari sektor manufaktur ini.
"Problem di Indonesia dan di seantero dunia adalah demand side. Confidence untuk berkonsumsi, karena pada saat ini yang karya-karya itu sudah mulai tergerus," ungkap dia.
Enrico menekankan, krisis kepercayaan ini membuat permintaan menurun di kelas menengah.
"Kita harus mengembalikan sektor manufaktur, karena itu adalah tulang punggung suatu negara, termasuk di Indonesia," ungkap dia.
Enrico menjelaskan, perkembangan di sektor manufaktur juga dipercaya dapat mengembalikan daya beli masyarakat kelas menengah.
"Jadi penting sekali mereka menyerap tenaga kerja, mereka juga meningkatkan daya beli, dan pada akhirnya pertumbuhan (ekonomi) kita lebih tinggi, berkualitas, dan berkesinambungan," kata dia.
Ia menambahkan, sektor manufaktur yang dapat menarik modal asing saat ini didominasi oleh sektor transportasi, pergudangan, logistik, hingga pertanian.
"Itu menurut saya lagi hot, itu menurut saya perlu terus ditekankan," imbuh dia.
Sektor pertanian serap banyak tenaga kerja
Khusus untuk sektor pertanian, Enrico percaya, industri ini dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja ketika diimbangi dengan insentif yang tepat.
Insentif bisa berupa bantuan dari segi pupuk tanaman, hingga barang modal untuk mengolah sawah.
Ia menambahkan, ketika masa tanam sudah selesai, para petani bisa beralih menjadi ojek online sambil menunggu pasa panen komoditasnya.
"Jadi dalam 12 bulan, mereka full optimized," ucap dia.
Lebih lanjut, Enrico mengungkapkan, saat ini dunia menghadapi ketidakpastian yang sangat tinggi. Hal tersebut tercermin dalam indeks ketidakpastian yang dibuat oleh IMF.
Ia berpandangan, kaum masyarakat dengan pendapatan kelas menengah biasanya selalu dalam keadaan terjepit.
"Terlalu banyak insentif dari pemerintah, tetapi toh mereka diharapkan berdiri sendiri dengan kakinya," terang dia.