Warta News Day - MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggelar pertemuan dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister’s Office Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah. Pertemuan bilateral itu membahas peluang kerja sama di sektor energi, mulai dari pengembangan pembangkit listrik, teknologi produksi minyak, hingga potensi pasokan minyak bagi Indonesia.
Pertemuan berlangsung di sela kegiatan Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Ahad, 15 Maret 2026. “Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan,” kata Bahlil, dikutip dari situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Senin, 16 Maret 2026.
Menurut Bahlil, Brunei menilai Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit listrik dari berbagai sumber energi. Saat ini, sekitar 99 persen pembangkit listrik di Brunei masih bergantung pada gas, sehingga negara tersebut berupaya mengurangi ketergantungan tersebut.
Ia menyebut pemerintah Brunei tertarik mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan pembangkit listrik dari berbagai sumber energi, termasuk energi baru dan terbarukan. Brunei juga tengah menyiapkan rencana peningkatan kapasitas pembangkit listrik nasional hingga lima kali lipat dari kapasitas saat ini. Negara itu berencana menambah sekitar 4 gigawatt kapasitas baru dari kapasitas terpasang yang saat ini sekitar 1 gigawatt.
Bahlil mengatakan Indonesia membuka peluang kerja sama di sektor minyak. Pemerintah tengah menjajaki kemungkinan impor minyak bumi dari Brunei untuk membantu menjaga stabilitas pasokan energi domestik. Brunei diketahui memiliki kapasitas produksi minyak sekitar 100 ribu hingga 110 ribu barel per hari.
Selain itu, pemerintah Brunei menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang digunakan oleh perusahaan energi nasional PT Pertamina (Persero) untuk meningkatkan produksi minyak dari sumur tua. Bahlil menyatakan pemerintah Indonesia siap memfasilitasi kerja sama teknis antara Brunei dan Pertamina, termasuk berbagi pengalaman serta pengetahuan terkait penerapan teknologi tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mendorong peluang investasi dari Brunei melalui program Koridor Ekonomi Indonesia atau Indonesian Economic Development Corridor. Melalui skema ini, Brunei diajak berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, terutama di wilayah terpencil yang memiliki potensi sumber daya alam namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur energi.
Kerja sama yang dibahas juga mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building, mulai dari sektor hulu minyak dan gas hingga pelatihan auditor energi terbarukan.
Dia menilai pertemuan tersebut membuka peluang penguatan hubungan energi antara Indonesia dan Brunei. Selain kerja sama pasokan minyak, kedua negara juga membahas potensi kolaborasi di bidang energi bersih seperti pengembangan hidrogen hijau serta investasi infrastruktur energi di kawasan terpencil.
Sementara itu, Mohamad Azmi menyampaikan negaranya tertarik mempelajari penerapan teknologi EOR di Indonesia. Ia mengatakan Brunei saat ini telah menggunakan metode water flooding untuk meningkatkan produksi minyak dan sedang mempertimbangkan penggunaan metode lain seperti chemical flooding, yang merupakan bagian dari teknologi EOR.