Harga Emas Melonjak di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Isu Cadangan Minyak
Internasional

Harga Emas Melonjak di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Isu Cadangan Minyak

Warta News Day - KOMPAS.com – Harga emas dunia kembali naik pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Penguatan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk meredam guncangan energi akibat perang di Timur Tengah.

Mengutip laporan Wall Street Journal, langkah tersebut diperkirakan melibatkan pelepasan cadangan minyak lebih dari 182 juta barel. Jumlah itu melampaui cadangan yang pernah dilepas setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Di pasar global, harga emas sempat menembus 5.200 dollar AS per ons setelah pada sesi sebelumnya naik sekitar 1 persen. Kenaikan logam mulia terjadi di tengah volatilitas harga energi dan ketidakpastian geopolitik.

Sementara itu, harga minyak mentah yang sebelumnya sempat melonjak mulai melepas sebagian penguatannya. Pada saat yang sama, indeks dollar AS juga sempat melemah hingga 0,1 persen.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/3/2026), ketegangan geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki hari ke-12, dengan berbagai pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat Amerika.

Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini membantah unggahan media sosial Menteri Energi Chris Wright yang kemudian dihapus.

Situasi keamanan di jalur tersebut membuat aktivitas pelayaran hampir terhenti. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur penting yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Lonjakan volatilitas harga energi juga memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini dapat membuat bank sentral, termasuk Federal Reserve, lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski demikian, harga emas sepanjang tahun ini masih menunjukkan kinerja kuat. Nilainya telah naik sekitar 20 persen sejak awal tahun, sekaligus menjadi sumber likuiditas bagi investor untuk menopang portofolio mereka di tengah gejolak pasar.

Sejak perang pecah, kepemilikan emas dalam exchange-traded fund (ETF) justru menurun. Data Bloomberg menunjukkan total kepemilikan ETF emas turun hampir 30 ton pekan lalu, menjadi aksi jual mingguan terbesar dalam lebih dari dua tahun.

Walau begitu, harga emas tetap bertahan di atas 5.000 dollar AS per ons, didukung permintaan aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan global.

Manajer portofolio DNCA Invest Strategic Resources Alexandre Carrier menilai emas masih menarik untuk dikoleksi saat harga melemah.

“Secara keseluruhan, saya pikir emas masih layak dibeli ketika harga sedang turun,” ujarnya.

Di sisi lain, perang juga terus mengganggu produksi dan pengolahan minyak di kawasan Timur Tengah.

Pentagon pada Selasa (10/3/2026) menyatakan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan paling intens terhadap Iran sejauh ini dan tidak akan menghentikan operasi hingga negara tersebut berhasil dikalahkan.

Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump sebelumnya memberi sinyal bahwa konflik mungkin segera berakhir.

Pelaku pasar juga mulai mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang diperkirakan masih berada di atas target bank sentral.

Pada perdagangan Rabu pagi di Singapura, harga emas spot naik 0,5 persen menjadi 5.218,42 dollar AS per ons. Harga perak naik 0,7 persen menjadi 88,92 dollar AS, sementara platinum menguat 1 persen dan palladium naik 1,3 persen. Indeks dollar Bloomberg tercatat melemah 0,1 persen.

You can share this post!