Selat Malaka: Fokus Baru Geopolitik Dunia di Tengah Ketegangan Selat Hormuz
Internasional

Selat Malaka: Fokus Baru Geopolitik Dunia di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Warta News Day - JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah berlanjutnya blokade Selat Hormuz, salah satu jalur perairan paling penting di dunia, perhatian global kini mulai tertuju pada Selat Malaka, arteri penting lainnya bagi perdagangan internasional.

Selat Malaka di Asia Tenggara kembali menjadi sorotan setelah pejabat Indonesia mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat (AS) telah mengajukan proposal untuk mendapatkan izin militer menyeluruh melintasi wilayah udara Indonesia.

Ini menyusul penandatanganan kesepakatan pertahanan pada Senin (13/4/2026) lalu.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa keputusan terkait usulan tersebut masih dalam proses.

Para pakar menilai langkah semacam itu berpotensi membawa implikasi geopolitik global.

Namun, apa sebenarnya Selat Malaka, dan mengapa jalur ini begitu penting?

Mengapa Selat Malaka penting secara global?

"Selat Malaka sangat krusial karena merupakan jalur pelayaran terpendek dan paling efisien yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik, sehingga menjadikannya rute yang tak tergantikan bagi perdagangan antara Timur Tengah, Eropa, dan Asia Timur," ujar Azifah Astrina, kandidat doktor di University of Illinois Urbana?Champaign, AS, sekaligus pakar kawasan yang menulis kajian tentang insiden maritim di Selat Malaka.

"Selat ini terhubung langsung dengan Laut China Selatan, yang dilalui sekitar sepertiga dari total perdagangan global," tambahnya.

Titik tersempit Selat Malaka, di sekitar Selat Phillips dekat Singapura, hanya memiliki lebar sekitar 2,8 kilometer.

Menurut laporan terbaru Badan Informasi Energi AS atau Energy Information Administration (EIA), sebanyak 23,2 juta barel minyak per hari melintasi Selat Malaka pada paruh pertama 2025, setara dengan sekitar 29 persen dari total perdagangan minyak global melalui laut.

Pada periode yang sama, jalur perairan ini juga menangani sekitar 260 juta meter kubik gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) per hari.

Gokcay Balci, dosen transportasi dan logistik angkutan berkelanjutan di University of Leeds, Inggris, mengatakan bahwa jalur perairan ini juga merupakan rute utama bagi pengiriman barang elektronik, barang konsumsi, barang industri, mesin, dan mobil.

"Sekitar 25 persen perdagangan mobil dunia melintas melalui selat ini. Kargo curah kering, seperti gandum dan kedelai, juga melewati Selat Malaka," ujarnya.

"Jika menggabungkan faktor geografis, ketergantungan energi, volume barang, serta keberagaman jenis muatan, Selat Malaka memiliki karakter yang berbeda dibandingkan Selat Hormuz. Hormuz memang sangat penting bagi perdagangan global, namun tidak berperan sebesar Selat Malaka sebagai pusat transshipment. Perannya melampaui sektor energi dan mencakup spektrum barang yang jauh lebih luas. Bisa dikatakan bahwa Selat Malaka merupakan salah satu arteri utama perekonomian global," tambah Astrina.

Pembajakan masih menjadi kekhawatiran yang terus berulang. Sepanjang 2025, tercatat 108 insiden perompakan laut di Selat Malaka dan Selat Singapura, angka tertinggi sejak 200, menurut ReCAAP Information Sharing Centre yang berbasis di Singapura.

You can share this post!